Nasional

Dedi Mulyadi Kebut Pembangunan Pabrik Biofuel Bobibos di Lahan 1.000 Meter Persegi, Publik Tunggu Hari Pembuktian

Oleh: Katarina Erlita Selasa 09 Des 2025, 17:11 WIB
Bahan Bakar Bobibos. (Sumber: Instagram.com/@bobibos_)

AYOJAKARTA.COM - Inovasi energi terbarukan Bobibos kembali menjadi sorotan publik setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mempercepat pembangunan pabrik biomanufaktur di Lembur Pakuan, Subang.

Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi itu digadang-gadang akan menjadi pusat pengolahan jerami menjadi bahan bakar ramah lingkungan seperti bensin dan solar biofuel.

Dalam video yang diunggah ke Instagram pada Selasa, 9 Desember 2025, pihak Bobibos menyampaikan bahwa pembangunan tengah dikebut agar mesin-mesin produksi bisa segera dipasang.

Baca Juga: Menanti Produksi BOBIBOS, Tim Tinjau Pembangunan Pabrik Bahan Bakar di Rumah KDM, Mesin Biomanufaktur Siap Dikirim

“Insya Allah setelah pabrik selesai, kami akan mengirim mesin-mesin utama untuk memulai produksi Bobibos di Lembur Pakuan,” ujar pihak pengelola.

Mereka menegaskan bahwa Dedi Mulyadi telah memerintahkan para pekerja untuk bergerak cepat demi menghadirkan manfaat bagi warga sekitar.

Bobibos juga menyebut timnya telah kembali meninjau area pabrik yang disiapkan menjadi pusat biomanufaktur. Pekan ini, 42 toren dan berbagai mesin utama sudah dijadwalkan masuk ke lokasi.

Aktivitas truk yang hilir mudik di kawasan rumah KDM pun mencuri perhatian publik, menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai kesiapan proyek inovatif ini.

Baca Juga: Keraguan Netizen Tentang BBM BOBIBOS yang akan Diproduksi di Lembur Pakuan, Padahal Puluhan Toren Sudah Siap: Masih Ada Saja yang Percaya!

Di tengah viralnya toren raksasa yang berdatangan, pihak Bobibos memberikan klarifikasi bahwa wadah tersebut digunakan untuk menyimpan jerami sebelum masuk ke proses pengolahan biofuel. Namun, penjelasan ini memunculkan kritik baru dari sejumlah praktisi energi.

Mereka mempertanyakan penggunaan toren air sebagai penyimpanan bahan bakar karena materialnya dinilai tidak cocok untuk menahan sifat kimia minyak, sehingga berisiko menimbulkan kebocoran serta memengaruhi kualitas oktan.

Selain itu, publik juga menyoroti belum adanya visualisasi mesin pengolah jerami, meski KDM mengaku sudah dua kali meminta Bobibos datang untuk memulai proses produksi.

Bahkan saat KDM menawarkan pembiayaan pembelian mesin, pihak Bobibos menolak tanpa penjelasan yang jelas, sebuah sikap yang memicu kecurigaan lebih besar.

Baca Juga: Bobibos Banjir Kritik Setelah Kirim Toren Raksasa ke Lembur Pakuan, Ada Masalah Apa?

Keraguan bertambah ketika para ahli mengingatkan bahwa produksi bioetanol tidak bisa berlangsung instan. Proses fermentasi dan perakitan mesin kapasitas besar biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan uji coba, bukan hanya satu mesin “langsung jadi” di atas truk Fuso seperti klaim viral Bobibos.

Meski demikian, proyek ini tetap mendapat dukungan Komisi XII DPR RI. Anggota DPR, Ramson Siagian, menilai inovasi Bobibos layak diapresiasi selama mengikuti standar uji kelayakan Kementerian ESDM.

Beberapa uji lapangan juga memperlihatkan hasil positif, misalnya angka oktan 98,1 dari Lemigas dan performa traktor yang disebut lebih ringan saat menggunakan Bobibos.

Untuk menjawab semua kritik, Bobibos resmi menetapkan 18 Desember 2025 sebagai hari pembuktian, momen saat mesin pengolah jerami dijanjikan akan diperlihatkan secara terbuka. Publik kini menunggu, apakah inovasi biofuel Bobibos benar-benar siap memberi terobosan energi hijau bagi Indonesia.***

Baca Juga: Akhirnya BBM BOBIBOS Siap Diproduksi di Lembur Pakuan, Truk yang Mengangkut Puluhan Toren Sudah Standby

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita