AYOJAKARTA.COM - Baru-baru ini seorang sopir truk sampah bernama Wahyudi (51) harus meninggal dunia diduga akibat kelelahan pada Jumat, 5 Desember 2025.
Dikutip ayojakarta.com dari berbagai sumber, korban diketahui seharusnya bekerja selama 40 jam tiap minggunya.
Namun tiap harinya ia harus mengantre hingga 8 jam untuk membuang sampah hingga kosong di Tempat Pembuangan Sampah terakhir (TPST) Bantargebang usai bekerja sebelumnya mengangkut sampah sejak dini hari.
Wahyudi diketahui mengalami kejang-kejang di lantai warung nasi ketika beristirahat.
Sempat mendapatkan penanganan dari dokter, Wahyudi dinyatakan meninggal dunia akibat ada masalah di jantung.
Menanggapi kasus ini, pihak Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta diketahui melakukan berbagai langkah perbaikan hingga turut berbelasungkawa.
Melalui keterangan resminya DLH DKI Jakarta berjanji sedang mempercepat proses pemberian hak dan santunan dari BPJS Ketenagakejaan.
Lebih lanjut pihak DLH DKI Jakarta menyebutkan bahwa seluruh petugas lapangan telah difasilitasi BPJS Kesehatan dan akan diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin secara gratis di fasilitas kesehatan terdekat.
Baca Juga: Bocoran One UI 8.5 Samsung, Dilengkapi 5 Fitur Baru Berbasis AI yang Siap Manjakan Pengguna Galaxy
Bukan hanya itu, evaluasi internal akan dilakukan secara menyeluruh.
Termasuk dengan melakukan penataan ulang antrean trus di TPST Bantargebang untuk menekan risiko kelelahan sopir.
"Semakin lama truk menunggu, semakin tinggi risiko keselamatan bagi pengemudi. Karena itu, aspek keselamatan harus menjadi pijakan utama dalam setiap kebijakan operasional," ujar Asep Kuswanto selaku Kepala DLH DKI Jakarta. ***
Share this article
Baru-baru ini seorang sopir truk sampah bernama Wahyudi (51) harus meninggal dunia diduga akibat kelelahan pada Jumat, 5 Desember 2025.