AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar nabati Bobibos kembali menjadi perbincangan hangat publik Indonesia. Setelah puluhan toren raksasa berdatangan ke Lembur Pakuan, Subang, banyak warga dan warganet mulai mempertanyakan sejauh mana kesiapan teknologi ini untuk benar-benar diproduksi.
Dalam beberapa hari terakhir, aktivitas truk yang keluar masuk kawasan rumah Kang Dedi Mulyadi (KDM) memicu tanda tanya besar.
Menanggapi hal tersebut, pihak Bobibos memberikan klarifikasi bahwa toren-toren tersebut digunakan untuk menyimpan jerami sebelum diolah menjadi biofuel.
“Semua ini disusun agar fasilitas di Lembur Pakuan berjalan sebagaimana mestinya dan dapat diuji secara bertahap,” tulis pihak Bobibos dalam unggahan resmi di Instagram.
Namun, penjelasan ini justru memunculkan gelombang kritik baru. Dilansir dari YouTube Lagi Populer Channel, sejumlah praktisi energi mempertanyakan pilihan menggunakan toren air sebagai tempat penyimpanan bahan bakar, karena material tersebut tidak didesain untuk menahan sifat kimia minyak.
Risiko kebocoran hingga penurunan kualitas oktan menjadi sorotan serius. Tidak hanya itu, publik juga mempertanyakan ketidakhadiran mesin pengolah jerami yang hingga kini belum ditunjukkan secara visual.
Padahal, KDM sudah dua kali meminta Bobibos untuk datang dan segera mengolah jerami yang telah ia siapkan di Lembur Pakuan.
Bahkan KDM menawarkan untuk membiayai mesin pengolah jerami, namun pihak Bobibos menolak tanpa penjelasan jelas, sebuah sikap yang semakin memunculkan kecurigaan.
Kritik makin menguat saat beberapa ahli mengungkap bahwa proses produksi bioetanol, terutama melalui fermentasi, tidak bisa berlangsung instan seperti klaim bahwa “satu mesin di truk Fuso” dapat mengolah jerami menjadi BBM dalam hitungan singkat.
Proses perancangan mesin kapasitas besar juga umumnya memakan waktu berbulan-bulan uji coba. Meski demikian, di tengah keraguan publik, Bobibos tetap mendapat dukungan penting dari Komisi XII DPR RI.
Anggotanya, Ramson Siagian, menegaskan bahwa inovasi ini patut diapresiasi selama melalui uji kelayakan ketat dari lembaga di bawah Kementerian ESDM.
Baca Juga: Bobibos di Ujung Pembuktian, Sudah Kantongi Dukungan dari Komisi XII DPR
Beberapa hasil uji lapangan juga menunjukkan tanda positif. KDM melaporkan bahwa mesin traktor yang memakai Bobibos memiliki tarikan lebih ringan, dan Lemigas mencatat angka oktan 98,1, lebih tinggi dari banyak bensin komersial.
Untuk menjawab semua kritik dan spekulasi, pihak Bobibos resmi menetapkan 18 Desember 2025 sebagai hari pembuktian. Pada tanggal tersebut, mesin pengolah jerami dijanjikan akan dipresentasikan secara terbuka.
Kini publik menunggu, apakah Bobibos akan menjadi energi rakyat yang membanggakan, atau justru tersungkur sebelum sempat bersinar?***
Share this article
Bobibos kirim toren raksasa ke Lembur Pakuan untuk persiapan fasilitas biofuel, namun publik masih meragukan mesin pengolah jerami yang belum ditunjukkan dan menunggu pembuktian pada 18 Desember 2025.