AYOJAKARTA.COM - Pemerintah berencana melakukan pengukuran fungsi otak dan pertumbuhan fisik siswa penerima program makan bergizi gratis (MBG).
Langkah ini diadopsi dari praktik yang telah diterapkan di Jepang sebagai bagian dari evaluasi dampak program gizi terhadap perkembangan anak.
Pengukuran tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan makan harian siswa, tapi juga memberi manfaat nyata terhadap perkembangan kognitif, kesehatan, dan pertumbuhan fisik anak usia sekolah.
Rencana ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas).
Baca Juga: Terkenal Kumuh, Pemprov DKI Jakarta Sulap Kawasan Cilincing jadi RTH Taman Roci!
Zulhas mengatakan, saat ini pemerintah menargetkan data akurat dan terpercaya sebagai dasar evaluasi program MBG.
Data tersebut akan digunakan untuk memantau kondisi anak sebelum dan sesudah menerima MBG, dari 1–4 tahun dan seterusnya.
Di sisi lain, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan bahwa langkah ini akan menjadi bagian output utama program MBG dan dilakukan lembaga independen.
Dadan lantas mencontohkan program makan bergizi yang ada di Jepang.
Ia mengatakan bahwa program makan bergizi di Jepang membuat tinggi rata-rata penduduk meningkat signifikan.
“Di dalam program makan bergizi di Jepang, itu ada pengukuran perbedaan tinggi rata-rata badan orang Jepang dari tahun 40-an [1940-an] ke tahun 2000-an," terang Dadan.
Hal itu terjadi karena adanya peningkatan kualitas gizi.
Dadan pun optimis dengan mengadopsi praktik dari Jepang ini, dapat memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya dalam menurunkan angka kekurangan gizi, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini.
Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk menjadikan MBG sebagai investasi strategis dalam pembangunan generasi unggul dan berdaya saing di masa depan.***