Nasional

Bobibos Kirim Surat terbuka untuk Presiden Prabowo, Berharap Dapat Mandat untuk Kelola Sawah di Indonesia

Oleh: Katarina Erlita Minggu 29 Mar 2026, 21:21 WIB
Bobibos, Bahan Bakar Ramah Lingkungan dari Jerami. (Sumber: Instagram.com/@bobibos_)

AYOJAKARTA.COM - Di tengah krisis energi global yang kian memanas, inovasi energi lokal kembali mencuri perhatian.

Kali ini datang dari Bobibos, bahan bakar berbasis jerami yang mengklaim mampu menjadi solusi strategis bagi ketahanan energi nasional.

Melalui surat terbuka di media sosial Instagram yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto, Bobibos menyampaikan ambisi besar untuk mengelola jutaan hektare sawah untuk produksi bahan bakar nasional.

Dalam unggahan resminya, Bobibos menyoroti potensi besar jerami sebagai bahan baku energi.

"Dunia krisis energi: Pak Prabowo, andai Bobibos diperintah kelola sawah. Andai BOBIBOS diberi mandat untuk mengelola potensi sawah Indonesia," tulis pengelola Bobibos di media sosial Instagram.

Selama ini dianggap limbah, jerami justru dinilai mampu diolah menjadi bahan bakar berkualitas tinggi dengan angka oktan mencapai RON 98 serta emisi karbon lebih rendah dibandingkan BBM konvensional.

Bobibos bahkan memaparkan simulasi ambisius. Jika diberikan mandat mengelola 5 juta hektare sawah, produksi bisa mencapai 20 miliar liter bahan bakar per tahun.

Angka ini setara dengan 125,7 juta barel atau sekitar 344 ribu barel per hari.

Jika cakupan diperluas hingga 10 juta hektare, produksi harian berpotensi menembus 689 ribu barel.

Sebagai perbandingan, konsumsi BBM Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya berkisar 580 ribu barel.

Artinya, ketergantungan impor masih sangat tinggi. Dengan skenario Bobibos, impor bisa ditekan drastis, bahkan berpotensi dihilangkan jika produksi pertanian mampu mencapai tiga kali panen dalam setahun.

Momentum ini semakin relevan di tengah ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.

Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus mendorong volatilitas harga minyak global, membuat negara importir seperti Indonesia berada dalam posisi rentan.

Di sinilah Bobibos menawarkan keunggulan berbasis sumber daya lokal. Dengan bahan baku dari sektor pertanian domestik, rantai pasok energi menjadi lebih stabil dan tidak terpengaruh gejolak eksternal.

Namun, tantangan besar masih membayangi. Hingga kini, jerami belum masuk dalam peta jalan energi nasional.

Regulasi masih berfokus pada komoditas seperti sawit, tebu, dan aren. Dukungan kebijakan menjadi kunci utama agar inovasi ini dapat berkembang.

Anggota DPR RI, Mulyadi, menegaskan kesiapan teknologi Bobibos. “Kami siap, yang kami butuhkan itu regulasi, investasi, dan proteksi,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa Bobibos adalah energi pelengkap, bukan pengganti BBM.

Menariknya, ketika regulasi dalam negeri belum siap, Bobibos justru melangkah ke luar negeri dengan rencana produksi di Timor Leste.

Ini menjadi sinyal kuat bahwa inovasi energi berbasis biomassa memiliki daya saing global.

Jika pemerintah merespons surat terbuka ini dengan kebijakan konkret, bukan tidak mungkin Indonesia akan memasuki era baru, dari importir energi menjadi negara yang mandiri, bahkan eksportir energi berbasis sumber daya lokal.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita