AYOJAKARTA.COM - Pengembangan bahan bakar alternatif berbasis jerami, Bobibos, kini memasuki fase krusial setelah mendapat perhatian dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Namun di tengah momentum tersebut, ancaman serius justru datang dari maraknya aksi penipuan yang mencatut nama produk energi karya anak bangsa ini.
Melalui unggahan terbaru di Instagram pada Sabtu, 18 April 2026, pihak Bobibos secara tegas meminta bantuan publik untuk melawan oknum penipu.
“Bantu report akun ini ya.. PENIPUAN!” tulis akun resmi Bobibos dalam instastory mereka.
Seruan ini menandai eskalasi kasus penipuan yang semakin masif, terutama melalui media sosial dan pesan berantai WhatsApp.
Fenomena ini muncul di saat proses teknis Bobibos masih berlangsung di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.
Pemerintah sebelumnya menegaskan bahwa bahan bakar tersebut wajib menjalani uji jalan pada kendaraan roda dua dan roda empat sebelum bisa dipasarkan secara luas.
Menurut Dirjen Migas Laode Sulaeman, pengujian ini menjadi tahap krusial untuk memastikan performa, efisiensi, dan keamanan produk.
“Uji jalan akan dilakukan pada mobil dan motor. Ini menjadi fokus utama sebelum masuk tahap komersial,” ujarnya.
Untuk mempercepat proses, pemerintah juga telah membentuk tim teknis yang dipimpin oleh Noor Arifin Muhammad.
Tim ini bertugas menyusun parameter pengujian secara komprehensif, mulai dari emisi hingga stabilitas penggunaan dalam berbagai kondisi.
Ironisnya, di tengah proses validasi ilmiah tersebut, oknum tidak bertanggung jawab justru memanfaatkan celah informasi untuk menipu masyarakat.
Modus yang digunakan cukup sistematis, mulai dari penawaran pembelian BBM palsu hingga pembukaan kemitraan fiktif dengan harga tertentu.
Bahkan, pelaku menyertakan format pemesanan lengkap beserta tautan aplikasi yang berpotensi berbahaya.
Padahal, pihak Bobibos telah berulang kali menegaskan bahwa mereka belum melakukan penjualan maupun membuka kemitraan di Indonesia.
Founder Iklas Thamrin menyatakan bahwa produk masih dalam tahap pengujian resmi, sehingga seluruh klaim komersial yang beredar dipastikan tidak valid.
Selain risiko kerugian finansial, masyarakat juga dihadapkan pada ancaman keamanan digital akibat tautan mencurigakan yang beredar.
Karena itu, Bobibos mengimbau publik untuk lebih waspada dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak berasal dari kanal resmi.
Di sisi lain, pengembangan Bobibos tetap menyimpan potensi besar. Dengan bahan baku jerami, inovasi ini tidak hanya menyasar sektor energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani serta mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.***