AYOJAKARTA.COM - Pengembangan bahan bakar alternatif Bobibos memasuki fase krusial.
Setelah menarik perhatian publik, inovasi karya anak bangsa ini kini mulai diuji secara teknis oleh LEMIGAS untuk menentukan standar dan klasifikasi resminya di sektor migas.
Berbeda dari bahan bakar nabati yang sudah umum seperti bioetanol atau biodiesel (FAME), Bobibos mengusung konsep yang lebih maju, yakni hidrokarbon sintetis berbasis 100 persen minyak nabati.
Inilah yang menjadi pembeda utama sekaligus tantangan dalam proses pengujiannya.
Founder Bobibos, Iklas Thamrin, menegaskan bahwa produk yang dikembangkan tidak mengandung campuran bahan bakar fosil sama sekali.
“Karena basisnya 100 persen dari minyak nabati dan tidak dicampur dengan bensin fosil, maka perlu disamakan dulu persepsinya, apakah masuk kategori hidrokarbon sintetis, bukan etanol,” ujarnya.
Penyamaan persepsi ini penting karena akan menentukan metode uji, parameter teknis, hingga regulasi yang akan digunakan.
Tanpa klasifikasi yang jelas, pengujian berisiko tidak memiliki standar baku.
Secara kimiawi, perbedaan Bobibos dengan bioetanol sangat signifikan. Bioetanol merupakan senyawa alkohol (C₂H₅OH) yang mengandung oksigen, sehingga cenderung menyerap air dan berpotensi menimbulkan korosi pada sistem bahan bakar jika digunakan dalam kadar tinggi.
Sebaliknya, hidrokarbon sintetis memiliki struktur molekul yang menyerupai bensin atau solar konvensional, tersusun dari rantai karbon dan hidrogen tanpa kandungan oksigen.
Karakter ini menjadikan Bobibos sebagai drop in fuel, yaitu dapat langsung digunakan pada kendaraan tanpa perlu modifikasi mesin.
Keunggulan lain terletak pada densitas energi yang lebih tinggi dibanding bioetanol, sehingga efisiensi pembakaran mendekati bahan bakar fosil. Ini menjadi nilai tambah penting dalam konteks performa kendaraan.
Direktur PT Inti Sinergi Formula, Randy F. Firdaus, menjelaskan bahwa tahap selanjutnya adalah pembentukan tim teknis gabungan bersama Direktorat Teknik dan Lingkungan Migas.
Tim ini akan merancang skema uji, termasuk uji fungsi dan uji jalan kendaraan.
Selain itu, Bobibos juga telah menyiapkan inovasi berupa unit produksi bergerak atau Bobibos Mobile Unit (BMU), yang mampu memproduksi bahan bakar hingga 300 liter per enam jam.
Teknologi ini dirancang untuk mengolah biomassa seperti jerami menjadi bahan bakar ramah lingkungan secara fleksibel.
Dalam implementasi internasional, Bobibos bahkan menggunakan nama berbeda, yaitu TABe (Timor Agriculture Bobibos Energy) saat diluncurkan di Timor Leste.
Jika seluruh tahapan teknis dan pengujian berhasil dilalui, Bobibos berpotensi menjadi terobosan besar dalam transisi energi nasional.
Dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti jerami, Indonesia tidak hanya dapat mengurangi emisi karbon, tetapi juga menekan ketergantungan impor minyak.
Kini, hasil uji dari LEMIGAS menjadi kunci. Apakah teknologi hidrokarbon sintetis ini akan menjadi masa depan energi Indonesia? Semua mata tertuju pada hasilnya.***
Share this article
Bobibos, inovasi hidrokarbon sintetis 100% nabati, kini diuji teknis oleh LEMIGAS. Berbeda dari etanol, bahan bakar "drop-in" dari jerami ini tanpa modifikasi mesin & siap menuju uji jalan nasional.