AYOJAKARTA.COM - Pemerintah Indonesia sedang mempercepat program transisi energi di sektor transportasi.
Target utamanya adalah penerapan mandatori bensin E5 secara menyeluruh pada akhir tahun 2026.
Program ini mewajibkan pencampuran bioetanol sebesar 5 persen ke dalam bensin non-subsidi.
Rencana ini akan terus ditingkatkan menjadi E10 pada awal 2027 dan mencapai E20 pada Januari 2028.
Namun, ambisi besar ini menghadapi tantangan berat dari sisi pasokan. Saat ini, kapasitas produksi bioetanol dalam negeri masih sangat terbatas.
Produksi domestik hanya mampu menghasilkan sekitar 0,5 juta kiloliter (KL) per tahun.
Padahal, kebutuhan untuk mandatori E5 diproyeksikan mencapai 2 juta KL per tahun.
Kondisi ini menyebabkan Indonesia terancam defisit pasokan sebesar 1,5 juta KL bioetanol.
Untuk menjaga kelancaran program, pemerintah terpaksa mengambil opsi impor.
Impor dianggap sebagai solusi jangka pendek yang paling realistis. Namun, kebijakan ini muncul di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Neraca perdagangan Indonesia dilaporkan mengalami defisit sejak Mei 2026.
Selain itu, nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh angka Rp17.963 per dolar AS.
Selain beban ekonomi, risiko ketahanan pangan juga mengintai di balik kebijakan ini.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah memberikan peringatan keras.
Penggunaan jagung secara masif sebagai bahan baku bioetanol global memicu lonjakan harga pangan.
Data FAO menunjukkan konsumsi jagung dunia diproyeksikan menembus 1,3 miliar ton akibat ekspansi industri energi.
Ironisnya, produksi jagung global justru diperkirakan menyusut sebesar 1 persen.
Penurunan produksi ini dipicu oleh tingginya biaya pupuk dan bahan bakar yang membebani petani.
Situasi ini menciptakan kompetisi antara kebutuhan energi dan kebutuhan pangan masyarakat.
Jagung kini menjadi komoditas yang sangat sensitif terhadap fluktuasi pasar energi.
Pemerintah perlu cermat dalam menyeimbangkan regulasi ini. Jangan sampai ambisi mengejar bauran energi hijau justru mengorbankan stabilitas harga pangan dan pakan ternak nasional.
Membangun ekosistem bioetanol yang mandiri membutuhkan penguatan dari sektor hulu hingga hilir.
Pengalaman dari industri biodiesel menunjukkan bahwa membangun kemandirian energi membutuhkan waktu yang cukup lama dan konsistensi kebijakan.
Indonesia kini berada di persimpangan jalan antara kemandirian energi dan stabilitas ekonomi nasional.***