AYOJAKARTA.COM - Salah satu kelebihan bangsa Indonesia dalam menyambut Pemilu 2024 adalah bonus demografi dengan jumlah pemilih muda yang mendominasi.
Pemilih muda atau biasa diasosiasikan dengan ungkapan generasi milenial dan Gen Z, merupakan segmentasi tersendiri pada Pemilu 2024.
Menyadari hal tersebut, setiap paslon peserta Pemilu 2024 kerap berusaha menggandeng pemilih muda sebagai subordinat kekuatan dan representasi politik.
Baca Juga: Geisz Chalifah Kritik Gibran Rakabuming Raka: Kalau Bukan Anaknya Presiden, Elu Bukan Siapa-siapa
Bagi salah satu paslon, pentingnya pemilih muda di Pemilu 2024 juga dijadikan sebagai bagian dari strategi politik guna meraih dukungan.
Kehadiran kontestan muda dalam pilpres, ditengarai menjadi sinyalemen upaya menggeser paradigma bahwa kaum muda milenial dan Gen Z merupakan generasi anti politik.
Sehubungan dengan keikutsertaan kaum muda dalam kancah politik tanah air, Wulan Sari Mochtar memberi tanggapan.
Menurut salah satu Jubir pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Ikandar tersebut, keterlibatan kaum muda dalam politik bisa menjadi pisau bermata ganda.
Selain baik sebagai sebuah proses, keikutsertaan kaum muda dalam kancah politik juga bisa mendatangkan ketidak-adilan.
Untuk menjadi seorang pemimpin yang mengerti betul sebuah persoalan dan kebijakan, Wulan Sari Mochtar menilai perlu secara langsung mengalami kenyataan.
Baca Juga: Eros Djarot Yakin Sikap Songong Gibran Rakabuming dalam Debat Cawapres Bukan Suruhan dari TKN
Karenanya, penting bagi kaum muda untuk bisa terlebih dahulu memahami kualitas diri sehingga tidak bergantung pada kekuatan dinasti atau keluarga.
“Banyak sekali orang pintar yang tidak mendapatkan kesempatan sebagaimana dengan Mas Gibran, karena bukan anak Presiden,” ungkap Wulan Sari Mochtar.
Menambahkan pernyataan Wulan Sari Mochtar, Latifina Ali yang juga merupakan perwakilan kaum muda memberi tanggapan.
Adanya ketidakadilan yang dirasakan kaum muda terkait dengan porsi politik, menurut Latifina bisa dilihat dari sosok Anies Baswedan.
Meski sejak SMA sudah memiliki bergudang prestasi dan pengalaman yang bersifat internasional, namun kesempatan menjadi pemimpin pupus karena jauh dari Kekuasaan.
“Beliau tidak bisa jadi cawapres di umur 36 tahun karena bukan anak presiden, dan tidak punya paman di MK, di usia 37 tahun beliau jadi Rektor Termuda,” jelas Latifina.
Kemampuan dan kompetensi kebanyakan kaum muda, menurut Latifina seringkali terkendala oleh minimnya privilege atau keleluasaan.
Pemimpin yang berkualitas, menurut Latifina bukan hadir karena proses kekuasaan atau karbitan melainkan proses panjang yang terus berkelanjutan.
Karena itu, Latifina serta Wulan yang mewakili keresahan kaum muda berharap agar proses politik tidak menjadikan kaum muda mengalami kematian semangat.
“Dinasti politik yang terus berlanjut, bisa mematikan semangat karena bukan siapa-siapa,” tegas Wulan dikutip Ayojakarta, Senin 29 Januari 2024 dari kanal YouTube Abraham Samad Speak Up. ***