AYOJAKARTA.COM – Pasca pertemuan dengan 5 pimpinan partai politik, sejumlah pengamat menyebutkan bahwa Presiden Joko Widodo atau Jokowi tampak serius dalam membuat koalisi besar.
Sementara itu, 2 partai yang juga masuk ke dalam koalisi Presiden Jokowi yaitu Nasdem dan PDIP, tidak terlihat dalam pertemuan tersebut.
Pertemuan antara para pimpinan partai politik yang masuk ke dalam kabinet Presiden Joko Widodo digelar di Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN).
Baca Juga: Unggah Video Tentang Pesepakbola Jujur yang Dipaksa Mundur, Warganet Usung Anies Baswedan–Mahfud MD!
Koalisi besar tersebut dibentuk jelang berlangsungnya pemilihan umum yang akan dilakukan pada tahun 2024.
Menanggapi adanya pembentukan koalisi besar oleh Presiden Joko Widodo, Ketua DPP PDIP, Puan Maharani mengatakan bahwa PDIP siap menjadi tuan rumah untuk pertemuan koalisi besar tersebut.
Tetapi, menurut pengamat politik, Rocky Gerung menyebutkan bahwa sikap yang diambil oleh Puan Maharani berbanding terbalik dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri.
Rocky menilai bahwa Megawati Soekarno Putri terkesan enggan bertemu dengan pimpinan partai politik koalisi besar yang diusung oleh Presiden Jokowi.
Dilansir AyoJakarta.com dari YouTube Rocky Gerung Official pada Kamis (6/4), Bung Rocky menyebutkan bahwa Megawati Soekarno Putri merupakan bagian konservatif di dalam PDIP.
“Selalu dalam politik ada bagian yang konservatif ada bagian yang moderat,” kata Bung Rocky.
“Bagian konservatif di PDIP adalah ibu Mega yang bersikeras pada soal ideology,” sambungnya.
Baca Juga: Terungkap! Mahfud MD Blak-blakan Bongkar Instansi Terbanyak Korupsi di Indonesia, DPR Ikut Disebut
Rocky Gerung menilai bahwa Puan Maharani sedang kejar-kejaran dengan usia politiknya.
Oleh sebab itu, dia mengambil sikap demikian terhadap koalisi besar usungan Presiden Jokowi.
Rocky juga mengatakan bahwa Puan memiliki hitungan tersendiri dalam pencalonan dirinya menjadi calon presiden dari PDIP.
“Tetapi Puan, walaupun dia Putri Ibu Mega tapi dia merasa dia kejar-kejaran dengan usia politiknya bukan usia biologisnya,” katanya.
“Sebagai orang yang sudah ketagihan kekuasaan tentu Puan juga punya hitungan sendiri,” tambah Rocky.
Rocky Gerung menilai bahwa kemunculan Puan Maharani guna meredakan konflik antara Megawati Soekarno Putri dengan Jokowi.
Pengamat politik tersebut juga menyebutkan bahwa nasib pencalonan Puan Maharani sebagai calon presiden dari PDIP ditentukan oleh perseteruan antara Jokowi dengan Megawati.
“Kalau misalnya tekanan atau duel antara Ibu Mega dengan Pak Jokowi itu berlanjut, nasib Puan juga ditentukan oleh hasil duel itu,” pungkas Rocky Gerung.***