AYOJAKARTA.COM-- Peristiwa G30S PKI meninggalkan banyak cerita duka bagi Indonesia.
Hal itu disebabkan karena banyaknya korban tak berdosa yang menjadi sasaran PKI.
Mulai dari masyarakat sampai para Jenderal tak luput dari incaran PKI.
Diketahui ada 6 orang Jenderal dan 1 perwira yang dibunuh oleh PKI sebagai langkah awal aksi mereka.
Jenderal tersebut adalah Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal TNI Raden Suprapto, Mayor Jenderal TNI Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal TNI Siswondo Parman, Brigjend TNI Donald Issac Panjaitan, Brigjend TNI Sutoyo Siswomiharjo dan seorang Lettu Pierre Andreas Tendean.
Tidak hanya dibunuh, yang lebih menyedihkan jenazah dari keenam jenderal dan seorang lettu tersebut juga dibuang ke dalam sumur.
Sumur tersebut berlokasi di kelurahan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur.
Salah seorang saksi bernama Pelda Purna Evert Julius Ven Kandau menceritakan turut menjadi anggota yang ikut mengevakuasi para jenazah korban G30S PKI tersebut.
Pelda Purna Evert Julius Ven Kandau merupakan mantan KKO pengangkat jenazah 6 Jenderal dan 1 Perwira pada peristiwa G30S PKI.
Adapun Pelda Purna Evert Julius Ven Kandau sudah meninggal pada 4 September 2020 lalu, namun ia sempat menceritakan kesaksiannya tersebut saat menjadi narasumber dalam sebuah acara.
Baca Juga: Honda New Vario 125 Hadir fengan Sporty dan Irit BBM, Simak Spesifikasinya Makin Kece
Diketahui kala itu Evert Julius turut serta dalam proses pengangkatan jenazah para jenderal dan perwira dari sumur lubang buaya bersama anggota-anggota lain.
Dikutip dari akun tiktok adam.history pada (18/6/2021), Evert Julius menceritakan suasana pada saat proses evakuasi kala itu.
Pensiunan TNI AL tersebut mengungkapkan bahwa para anggota yang terlibat dalam proses pengangkatan jenazah sempat ragu-ragu untuk masuk ke dalam sumur.
Mereka khawatir jika didalam sumur tersebut sudah dipasangi peledak atau granat.
“Rupanya takut begitu ngangkat jenazah itu mereka taruh bahan peledak atau granat gitu”, tutur Purna Pelda Evert Julius.
Namun Evert Julis mengungkapkan bahwa hal yang dikhawatirkan tersebut tidak terjadi.
Proses evakuasi para jenderal dan perwira korban keganasan G30S PKI diawali dengan turun ke dalam sumur lubang buaya untuk memeriksa orientasi.
Baca Juga: Salah Satu Cara Taat Kepada Allah Melalui Tawasul, Simak Penjelasan Dari Kyai Najih Maemoen Zubair
Setelah itu naik ke atas lagi dan berbicara kepada dokter bahwa tidak mungkin kalau jenazah tersebut diangkat secara wajar.
Evert Julius menceritakan saat itu kondisinya membuat jenazah terpaksa diangkat dengan cara diikat kemudian ditarik.
“Diikat ya boleh tapi jangan diikat dileher katanya.” tutur saksi hidup dari keganasan G30S PKI tersebut.
Evert Julius menambahkan, “Siapa yang bisa tahu, turun hanya ngeraba gitu diikat gak tahu itu leher atau apa kan pokoknya terikat kan itu.”
Baca Juga: Dapat di Akses Dengan Mudah, Film Tentang G30S PKI Ini Ada di YouTube
Namun akhirnya karena keadaan saat itu memang tidak memungkinkan, mereka tetap menggunakan cara tersebut untuk mengevakuasi para jenazah dari dalam sumur.
Evert Julius juga menyebutkan ada seorang anggota dari angkatan darat yang turun masuk ke dalam sumur lubang buaya.
“Perlu diketahui ada anggota dari angkatan darat tepatnya dari RKAD bernama Anang prajurit kepala. Itu juga yang mengangkat jenazah.” ujar pensiunan TNI AL tersebut.
Evert Julius melanjutkan ceritanya, “Jadi satu demi satu diangkat.”
Namun ada satu hal yang membuat proses evakuasi saat itu terasa sangat dramatis.
Hal tersebut adalah saat proses evakuasi pengangkatan jenazah Jenderal Sutoyo dan Ahmad Yani dari dalam sumur.
“Terus yang perlu diketahui pada saat Jenderal Sutoyo dan Pak Yani rupanya terikat jadi satu.” tutur almarhum Evert Julius.
“Dan tali ini kan sudah dipakai beberapa kali.
Jadi mungkin sudah rantas, sudah mau dekat mulut sumur itu putus.” imbuhnya.
Akibat dari insiden tersebut memyebabkan jenazah Jenderal Sutoyo dan Ahmad Yani terjatuh lebih dalam.
Baca Juga: Ria Ricis Ajak Baby Moana Bermain Trampoline, Dokter Anak Tegaskan Sangat Bahaya!
Hal itu diungkapkan oleh Evert, “Jadi jatuh lagi yang katanya dalamnya 12 meter, terus akhirnya masuk lagi ngikat tarik.”
Lebih lanjut Evert Julius juga menceritakan kondisi jenazah-jenazah kala itu.
“Saya merasa kasihan melihat Jenderal Yani.” tutur purna TNI yang meninggal diusia 85 tahun tersebut.
“Itu karena jenazah-jenazah yang lain kalau diangkat ditaruh di tanah langsung tegang gitu, tapi beliaunya begitu diangkat ke tanah langsung terlempar kepalanya..plaaak gitu”, jelas Evert Julius.
Baca Juga: Surat Somasi Es Teh Indonesia 'Dicoret-coret' karena Banyak Revisi, Salah Tulis Nama PT
“Saya langsung jongkok lihat seperti ada tersayat tapi tidak putus,” pungkasnya.
Hingga saat ini peristiwa G30S PKI menjadi momen penting yang harus diperingati pada tanggal 30 setiap bulan September. ***