News

Komjen Pol Setyo Budiyanto Terpilih Jadi Ketua KPK, Peneliti PoshDem: Memilih Kucing agar Tikus Bisa Beraksi

Oleh: Karseno AJ Jumat 22 Nov 2024, 22:03 WIB
Peneliti PoshDem Feri Amsari

AYOJAKARTA.COM – Setelah melalui proses voting, Komisi III DPR RI menetapkan Komjen Pol Setyo Budiyanto untuk menduduki jabatan Ketua KPK Periode 2024-2029.

Unggul dengan perolehan suara sebanyak 45 dukungan, Komjen Pol Setyo Budiyanto berhasil mengalahkan kandidat calon Ketua KPK lainnya.

Selain Komjen Pol Setyo Budiyanto yang menjabat Ketua KPK, Johanis Tanak, Fitroh Rohcahyanto, Ibnu Basuki Widodo serta Agus Joko Pramono juga masuk dalam jajaran.

Baca Juga: Masyarakat Makin Tercekik! Isu Kenaikan PPN 12 Persen Tahun 2025, Bikin Kemiskinan Bertambah?

Sebelumnya dari 20 calon yang diajukan panitia seleksi yang diajukan ke Presiden Jokowi, 10 diantaranya diserahkan ke Komisi III DPR untuk mengikuti proses seleksi.

Berdasarkan hasil perhitungan suara, Komisi III DPR RI menetapkan nama Komjen Pol Setyo Budiyanto sebagai Ketua KPK terpilih.

Bersama dengan empat pejabat komisioner KPK lainnya, Komjen Pol Setyo Budiyanto rencananya akan dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto.

Sehubungan dengan penetapan Komjen Pol Setyo Budiyanto dan keempat komisioner terpilih, Peneliti PoshDem Universitas Andalas memberi tanggapan.

Menurut Feri Amsari, komisioner yang dipilih oleh Komisi III DPR tidak sepenuhnya mampu mewakili keinginan rakyat Indonesia untuk memberantas korupsi.

Pernyataan Johanis Tanak terkait rencana penghapusan Operasi Tangkap Tangan atau OTT merupakan bentuk ketidak pahaman terhadap lembaga anti rasuah.

Baca Juga: Cek Ketentuan Seleksi Kompetensi PPPK Tahap 1 Tahun 2024, Ini Aturan Teknis, Manajerial hingga Wawancara

Lembaga KPK, menurut Feri dibentuk untuk melakukan pemberantasan terhadap segala tindak pidana korupsi.

Rencana untuk meniadakan OTT, merupakan salah satu peringatan adanya perbedaan pandangan terkait KPK sebagai lembaga anti rasuah.

“Jadi aneh sekali kalau cara berpikir orang-orang di DPR adalah memilih figur-figur yang punya catatan masa lalu,” ungkap Feri.

Banyaknya dukungan terhadap figur yang memandang secara berbeda tentang lembaga anti rasuah, menurut Feri merupakan hal ironi tersendiri.

Memilih Kucing-kucing tidak bertaji agar Tikus bisa terus melakukan aksi merupakan perumpamaan yang oleh Feri dipergunakan untuk melihat kondisi KPK saat ini.

Karena itu, Feri berharap agar lembaga KPK di masa depan tidak lagi diseleksi oleh lembaga yang memiliki potensi korupsi lebih besar.

Baca Juga: Siap-siap! KJP Plus Tahap 2 November Tahun 2024 Cair, Berikut List 20 Barang yang Bisa Dibeli Peserta Didik

“Kalau kita ingin berkembang, lembaga yang punya potensi korupsi lebih besar untuk memilih lembaga KPK, harus diperbaiki,” tegas Feri.

Terkait dengan pernyataan Feri Amsari, Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKB memberikan tanggapan.

Menurut Hasbiallah Ilyas, untuk menyikapi fenomena pergantian pimpinan di KPK sikap optimisme perlu diperbesar.

Perumpamaan tentang Tikus dan Kucing yang dijadikan sebagai acuan, menurut Hasbi dapat mencerminkan kualitas pendidikan.

“Jangan terlalu pesimis, menuduh Tikus dan Kucing macam-macam seperti itu, karena kita orang yang berpendidikan,” sanggah Hasbi. ***

Reporter Karseno AJ
Editor Jinan Vania Barizky