News

Mengintip Rahasia Kelezatan Santapan Haji Indonesia di Dapur Raksasa Madinah, Cita Rasa Nusantara Kunci Pengobat Rindu

Oleh: Asep Dadan Muhanda Selasa 06 Mei 2025, 11:10 WIB
Di balik kesibukan ribuan jemaah yang memadati Kota Suci, sebuah orkestra rasa tengah diracik di jantung Madinah.

AYOJAKARTA.COM -- Di balik kesibukan ribuan jemaah yang memadati Kota Suci, sebuah orkestra rasa tengah diracik di jantung Madinah.

Aroma bawang goreng yang renyah, pedasnya cabe hijau yang menggoda, dan keharuman bumbu gepuk yang meresap, menyeruak dari sebuah dapur yang tak pernah tidur: Uhud Taibah for Catering.

Inilah "rumah makan" bagi ribuan jemaah haji Indonesia, tempat kerinduan akan cita rasa kampung halaman diolah dengan cinta dan dedikasi.

Baca Juga: Haru dan Bahagia, Jemaah Haji asal Pekanbaru Riau Sujud Syukur saat Tiba di Bandara Madinah

Minggu malam, 4 Mei 2025, jarum jam menunjukkan pukul 23.00 Waktu Arab Saudi, atau Senin dini hari bagi Tanah Air. Di tengah keheningan malam Madinah, tim Media Center Haji menyusuri Jalan Pangeran Nayef Bin Abdulaziz, menuju pusat kuliner yang tak kenal lelah ini.

Tur dimulai dari dapur kering yang menyimpan harta karun rempah Indonesia, diracik ulang dengan cermat untuk menjaga otentisitas rasa.

Melangkah lebih dalam, aroma semakin kuat menyeruak dari hot room, ruang memasak utama yang dipenuhi panci-panci berukuran fantastis. Di sinilah, di bawah arahan tangan-tangan terampil, hidangan untuk ribuan perut disiapkan dengan presisi.

Perjalanan rasa berlanjut ke gudang penyimpanan, tempat bumbu-bumbu khas Nusantara tertata rapi, dari aroma khas bumbu gepuk yang menggugah selera hingga segarnya aroma cabe hijau yang membangkitkan selera makan.

Baca Juga: Kesedihan Mendalam bagi Karno Karta Semita, Sang Istri Damiah Suwaryo Jadi Calon Jemaah Haji Pertama yang Wafat di Tanah Suci

Daging segar tersimpan aman di cold room yang membekukan, sementara buah-buahan menunggu giliran untuk disantap di ruang sejuk khusus. Kebersihan adalah harga mati di sini. Lantai kinclong, peralatan memasak tertata sempurna, dan tak ada setitik pun bahan makanan yang tercecer.

Di tengah kesibukan dapur, Chef Muhammad Suhendi, sang komandan rasa yang jauh-jauh datang dari Cisarua, Bogor, menyambut dengan senyum ramahnya.

Ia mengungkapkan rahasia utama di balik kelezatan hidangan haji ini, 90 persen bumbu yang digunakan adalah warisan dari Indonesia.

“Pemerintah sangat membantu dengan mengirimkan bumbu siap pakai langsung dari Tanah Air. Rasanya tetap Indonesia, dan yang pasti lebih ringan di lidah dibanding bumbu Arab,” jelasnya dengan bangga.

Baca Juga: Jangan Sampai Hilang! Nusuk Mulai Dibagikan ke Jemaah Calon Haji, Kartu Pintar Selama Beribadah di Tanah Suci

Chef Suhendi membeberkan bahwa menu harian telah disusun apik oleh petugas haji Indonesia, dengan rotasi yang memastikan variasi dan nutrisi yang cukup bagi para jemaah.

“Setiap Jumat, kami menyajikan nasi Arab dengan ayam panggang dan kurma, sebagai sentuhan lokal. Tapi tetap saja, menu Nusantara mendominasi. Nasi uduk yang gurih, orek tempe yang manis pedas, dan berbagai sambal yang bikin rindu rumah selalu hadir,” tuturnya, seolah membocorkan resep kebahagiaan di perantauan.

Dadang Suratman, tenaga ahli pengawas konsumsi haji dari Poltekpar NHI Bandung, menambahkan bahwa proses distribusi makanan diawasi dengan sangat ketat.

“Proses memasak dimulai pada malam hari. Pukul 6 pagi, makanan sudah harus tiba di hotel-hotel jemaah. Suhu harus dijaga stabil di 80 derajat agar tetap hangat dan aman dikonsumsi,” tegasnya.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Jemaah Lansia Indonesia, Menunggu Antrean Haji hingga 15 Tahun Lamanya...

Sebelum sampai ke meja makan jemaah, setiap sampel makanan wajib menjalani serangkaian pengujian ketat di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).

“KKHI dan tim kesehatan akan memeriksa dengan teliti apakah makanan layak dikonsumsi. Jika tidak memenuhi standar, akan langsung ditahan,” jelas Dadang, menunjukkan betapa seriusnya pemerintah dalam menjaga kesehatan jemaah.

Dadang juga memberikan imbauan penting kepada para jemaah untuk mematuhi batas waktu konsumsi yang telah ditentukan.

“Makan pagi harus selesai sebelum jam 9 pagi, makan siang sebelum jam 4 sore, dan makan malam maksimal jam 9 malam. Lewat dari itu, demi keamanan dan kesehatan bersama, makanan harus dibuang,” pesannya dengan nada serius namun penuh perhatian.

Baca Juga: Agar Jemaah Fit hingga Puncak Armuzna, Simak 7 Tips Kesehatan Jitu dari Klinik Haji demi Kelancaran Ibadah

Dengan sistem yang terstruktur rapi, higienis, dan yang terpenting, kaya akan cita rasa tanah air, pemerintah berharap para jemaah dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan fokus.

“Jauh dari rumah, tapi tetap bisa menikmati rasa Indonesia. Itulah yang kami usahakan setiap hari di dapur ini,” pungkas Chef Suhendi, menyiratkan kehangatan dan kerinduan yang sama dengan para jemaah yang menikmati hasil karyanya.

Di balik aroma sedap yang menguar dari dapur Uhud Taibah, tersimpan harapan dan doa agar setiap suapan menjadi pengobat rindu dan penambah semangat dalam menjalankan ibadah haji.

Reporter Asep Dadan Muhanda
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil