News

Buntut Pernyataan Presiden Jokowi Soal Data Intelijen, Benarkah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Pro Prabowo?

Oleh: Karseno AJ Senin 12 Feb 2024, 14:46 WIB
Buntut Pernyataan Presiden Jokowi Soal Data Intelijen, Benarkah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Pro Prabowo?

AYOJAKARTA.COM -- Pernyataan Presiden Joko Widodo perihal seluk-beluk partai serta tujuan politik jangka panjangnya, menjadi salah satu sorotan dalam film dokumenter Dirty Vote.

Berbanding terbalik dengan sejumlah pernyataan Presiden Joko Widodo terkait keterlibatan kedua putranya di dunia politik, beragam kritik-pun mulai mencuat ke publik.

Sikap dan bahasa-bahasa politik yang dianggap memihak, membuat banyak kalangan mempertanyakan netralitas Presiden Joko Widodo dalam pilpres 2024.

Baca Juga: Film Dirty Vote Ungkap Ucapan Jokowi Tidak Sesuai Kenyataan tentang Gibran Rakabuming, Banyak Kebohongan?

Bukan semata karena kedua putranya berada di dalam barisan yang sama, etika Jokowi juga juga menjadi salah satu hal pencetus timbulnya penasaran.

“Informasi yang saya terima komplit, dari BIN, Badan Intelijen dan Keamanan Polri, dari TNI saya punya Badan Intelijen Strategis, dan itu hanya miliknya Presiden,” ujar Jokowi

Majunya Gibran sebagai salah satu cawapres peserta pilpres, membuat sebagian kalangan ikut menyoal netralitas institusi kepolisian.

Terlebih karena dalam salah satu acara, Jendral Listyo Sigit Prabowo selaku Kapolri sempat membuat pernyataan yang membuahkan pertanyaan.

Baca Juga: Hari Pencoblosan Kian Dekat, Pengamat Politik Eep Saefulloh Nilai Jokowi Pertontonkan Praktik Nepotisme

Saat menghadiri acara natal di tahun 2023, Jenderal Listyo Sigit Prabowo secara eksplisit sempat menyinggung tipe pemimpin yang dibutuhkan oleh Indonesia.

Dalam pidatonya, Jenderal Listyo Sigit Prabowo secara menegaskan jenis pemimpin yang dicari dan dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.

“Yang kita cari adalah pemimpin yang bisa melanjutkan estafet kepemimpinan, bukan karena perbedaan,” ungkap Kapolri.

Lebih lanjut, Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga menyinggung potensi yang mungkin saja bisa terjadi jika perbedaan dijadikan sebagai acuan dalam proses pemilihan.

Baca Juga: Presiden Jokowi Beri 3 Mandat ke Menpan RB untuk Rekrutmen CPNS 2024, Apa Saja?

Sebagaimana diketahui publik, tiga kandidat capres peserta pemilu 2024 menawarkan sejumlah program sebagai visi dan misi di masa depan.

Pasangan Anies-Muhaimin dengan slogan Perubahan, Prabowo-Gibran dengan Keberlanjutan, serta Ganjar-Mahfud dengan gagasan Pembaharuan dan Perbaikan.

Menyikapi pernyataan Kapolri yang dinilai memiliki makna ganda, capres nomor urut tiga Ganjar Pranowo sempat memberi tanggapan.

Menurut Ganjar, esensi pernyataan Kapolri merupakan hal yang pasti terjadi dalam proses demokrasi karena setiap pemimpin memang harus melakukan pembaharuan dan perbaikan.

Baca Juga: Hanya Dijadikan Alat, Connie Rahakundini Bakrie Kuatir Jokowi 'Singkirkan' Prabowo Sebelum Tahun Kedua Menjabat?

Sementara menurut Anies setiap pemimpin di Indonesia merupakan penerus dari estafet kepemimpinan dari Presiden Pertama, sehingga tidak perlu dipersoalkan.

“Pak Jokowi melanjutkan Pak SBY, Pak SBY melanjutkan Bu Mega, Bu Mega melanjutkan Gus Dur, memang selalu ada estafet,” jelas Anies.

Mengacu pada prinsip estafet kepemimpinan tersebut, Anies optimis pemenang pilpres mendatang akan sejalan dengan harapan Kapolri.

Namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa dalam setiap estafet kepemimpinan, selalu hadir nuansa perubahan.***

Reporter Karseno AJ
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil