AYOJAKARTA.COM - Politisi partai Gelora, Fahri Hamzah mengungkap beberapa fakta yang membuat heboh publik.
Dalam podcast bersama Deddy Corbuzier, politisi yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR periode 2014-2019 ini mengungkit jasa Presiden Joko Widodo yang membesarkan nama Ganjar Pranowo.
Menurutnya meski ada PDIP di balik pencalonan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden, tetapi ada peran besar dari Presiden Jokowi yang membuat namanya menjadi naik dalam survei.
Fahri Hamzah menyebut bahwa sebelumnya presiden sudah mengendors Ganjar Pranowo dengan memberikan kode-kode pemimpin yang baik berambut putih.
Menurutnya Jokowi meminta kepada PSI agar mendeklarasikan dukungannya kepada Ganjar Pranowo sebagai capres sebelum PDIP menentukan siapa calon yang diusung.
Hal ini menyebabkan kemarahan dari pihak PDIP, namun dibalik itu semua karena endors awal yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo menyebabkan elektabilitas mantan Gubernur Jawa Tengah dalam survei meroket.
Baca Juga: Fahri Hamzah Sebut Konsep Perubahan Anies Baswedan dan Cak Imin Tak Jelas Karena Hal Ini
“Bagaimana caranya Ganjar bisa melawan Pak Jokowi, came on dia ini kan ndak ada sebenarnya kan. Dia dibesarkan Pak Jokowi, rambutnya putih kode-kode,” ujar Fahri Hamzah dikutip Ayojakarta.com dari YouTube Deddy Corbuzier pada Kamis (8/2/2024).
“PDIP belum setuju loh, rambutnya putih terus suruh PSI dukung Ganjar jadi presiden ngamuk PDIP, apa-apaan sih ini partai nggak jelas katanya gitu, tarok ama si Yenny, Projo kasih kode rambut putih dalam sidang Projo,” imbuhnya.
“Orang bilang Pak Jokowi akan bersama Ganjar, naik surveinya Ganjar,” tambahnya.
Baca Juga: Pembagian Bansos Jelang Pemilu Tuai Kritik, Fahri Hamzah Sebut Jadwal Sudah Ditentukan Sejak Lama
Fahri Hamzah menuturkan bahwa pencalonan mantan Gubernur Jawa Tengah sebagai capres oleh PDIP karena melihat hasil survei tinggi, baru kemudian dipertimbangkan menjadi calon presiden.
Politisi Partai Gelora ini menyebut bahwa capres-cawapres nomor urut 03 dipaksa menjadi oposan dari Presiden Joko Widodo.
Padahal sebelumnya baik Ganjar maupun Mahfud tidak pernah berbicara negatif atau buruk terhadap Jokowi.
Namun karena saat ini sudah bersebelahan menyebabkan capres-cawapres nomor urut 03 seakan menjadi oposan dan menjelek-jelekkan dan menyerang pemerintahan.
“Tapi tiba-tiba last minute Ganjar dipaksa oposan kepada Pak Jokowi, came on Ganjar dalam 10 tahun 15 tahun ini kapan anda pernah ngomong negatif tentang Pak Jokowi, kapan nggak pernah,” tuturnya.
“Pak Mahfud juga demikian, dalam 5 tahun hampir 5 tahun ini kapan ngomong negatif tentang Pak Jokowi. Kapan menilai buruk pemerintahan, nggak pernah,” sambungnya.***