AYOJAKARTA.COM - Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin telah resmi mendeklarasikan diri sebagai capres-cawapres di Pilpres 2024 mendatang.
Sejak deklarasi yang dilakukan pada 2 September 2023 lalu, baik Anies Baswedan dan Cak Imin masih menjadi sorotan publik.
Duet Anies Baswedan dan Cak Imin ini, rupanya turut mencuri perhatian dari pengamat politik Mochtar W Oetomo.
Baca Juga: Jadikan Cak Imin sebagai Cawapres, Elektabilitas Anies Baswedan Masih Tidak Terlalu Kuat di NU
Dilansir AyoJakarta.com dari suarajatim.id pada Rabu (6/9/2023), Mochtar W Oetomo menyebut keputusan yang diambil keduanya terlalu singkat tanpa pikir panjang.
Menurutnya, PKB memang berambisi kadernya untuk menjadi capres maupun cawapres.
"Sejak 2004 mereka (PKB) punya ambisi kadernya jadi capres atau cawapres. Tapi itu semua tidak berhasil. Sehingga, sekarang ada peluang dari tawaran Nasdem atau Anies, akhirnya tawaran itu tidak dipikir panjang," kata Mochtar W Oetomo.
Moechtar menyatakan, pilihan yang diambil PKB tanpa pertimbangan ini bakal berdampak jauh ke depannya.
Hal itu berkaitan dengan adanya kader yang menjadi capres atau cawapres akan dianggap PKB berdampak pada suara partai akan naik.
“Tapi, dia (PKB) tidak mempertimbangkan hal lain,” imbuhnya.
Baca Juga: Pernyataan Anies Baswedan di Mata Najwa ada Unsur Kebohongan, Demokrat: Ini Pelanggaran Fatal
Di sisi lain, Mochtar mengatakan, Cak Imin tidak mempertimbangkan perbedaan ideologis antara pemilih PKB dan Anies Baswedan.
Menurut dia, antara PKB dan Anies Baswedan memiliki jarak.
Pemilih PKB didominasi Islam moderat tradisional, sedangkan pemilih Anies lebih di dominasi Islam moderat modern.
Baca Juga: PKS Berharap Demokrat Kembali di Koalisi Perubahan, Gegas Ingatkan Anies Baswedan soal Komunikasi
"Selama ini ada jarak. Baik psikologis maupun elektoral pemilih PKB atau pendukung Anies. Keputusan itu mengejutkan loyalis PKB maupun Anies. Kedua loyalis ini akan sulit berada dalam satu garis yang sama," ungkap Mochtar.
Mochtar juga menyebut, pasangan capres-cawapres Anies-Cak Imin butuh kerja lebih keras lagi dan berhati-hati.
Sebab, jika mereka sampai salah membangun narasi ke publik termasuk terkait loyalis mereka, tidak menutup kemungkinan jika Anies dan Cak Imin justru akan ditinggalkan pendukung loyal saat Pilpres 2024 mendatang.
"Ini tantangan berat bagi mereka. Bagaimana mereka membangun narasi yang bisa diterima oleh kedua kelompok berbeda ideologi ini,” pungkasnya.***