AYOJAKARTA.COM — Berbekal teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Inteligence, pelaku penyebar konten berbasis deepfake berhasil diamankan kepolisian.
Dalam menjalankan aksinya, pelaku penyebar konten berbasis deepfake juga menggunakan sosok Presiden Prabowo untuk menjerat para korban.
Dengan modus pemberian bansos, pelaku penyebar konten berbasis deepfake kemudian meraup keuntungan ekonomi dari para korban.
Dari hasil manipulasi konten palsu tersebut, pelaku berinisial JS yang telah menjalankan aksinya sejak 2024 berhasil meraup keuntungan mencapai 65 juta rupiah.
Adapun jumlah korban yang berhasil diperdaya pelaku berjumlah sekitar 100 orang dan tersebar di sebanyak 20 provinsi.
Selain mengamankan JS, Dirtipidsiber Bareskrim Polri Brigjen Pol Himawan Bayu Aji juga menyebut telah mengamankan AMA selaku pembuat video.
Menjadi salah satu hasil teknologi buatan, keberadaan deepfake selama beberapa tahun terakhir dianggap oleh sebagian kalangan dapat menjadi ancaman.
Melalui kecerdasan buatan tersebut, pelaku pembuat konten deepfake bukan hanya dapat memanipulasi foto tetapi juga video hingga suara.
Akibat pengolahan kecerdasan buatan tersebut, siapapun dapat berpotensi menjadi korban penyalahgunaan teknologi rekaan.
Selain dianggap menjadi ancaman bagi sebagian kalangan, penggunaan deepfake yang tidak bertanggung jawab juga banyak mengincar kaum hawa.
Dengan sedikit perintah melalui deepfake, siapapun dapat menjadi korban revenger porn atau pemerasan berbasis konten poronografi dari hasil rekayasa imaji.
Baca Juga: HPN 2025 di Riau Dukung Asta Cita Prabowo dan Nilai-Nilai Kejujuran
Bukan hanya berpotensi menghancurkan mental korban, dampak dari deepfake juga dapat mempengaruhi banyak perubahan sistem kehidupan.
Salah satu sosok ternama yang sempat menjadi trending karena dugaan penyalahgunaan deepfake adalah Nagita Slavina.
Sehubungan dengan kemunculan konten tersebut, Pakar Telematika Abimanyu sempat memberikan pandangan.
Menurut Abimanyu, penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan seperti deepfake memang berpotensi menjadi ancaman bagi berbagai segmen kalangan.
Selain karena perspektif masyarakat yang belum sepenuhnya memahami cara kerja kecerdasan buatan, juga karena pemahaman tentang karakteristik pemilik wajah.
Secara umum, Abimanyu menganggap deepfake merupakan hasil rekayasa penempelan wajah terhadap tokoh atau sosok yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat.
Baca Juga: 5 Keponakan Prabowo yang Jadi Sorotan dan Punya Karir Gemilang, Hampir Semuanya Bergabung di Politik
Penempelan wajah tokoh kenamaan, Abimanyu menambahkan tidak berhubungan dengan aktivitas atau gerakan sesungguhnya.
Karena itu untuk benar-benar mengetahui keaslian suatu peristiwa serta tokoh yang terlibat di dalamnya, masih memerlukan banyak pendalaman.
“Simpelnya kita punya dua gambar yang akan ditempel dan gambar lain yang akan ditunjuk, perilaku aslinya ada di gambar yang akan ditunjuk,” jelasnya, dikutip dari kanal YouTube tvOneNews.***