AYOJAKARTA.COM -- Sinyalemen akan terjadinya pergantian menteri atau reshuffle di Kabinet Merah Putih tengah menjadi sorotan.
Geliat akan adanya pergantian menteri atau reshuffle mencuat usai Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato saat perayaan HUT NU ke-102.
Meski tidak secara eksplisit menyebut akan melakukan pergantian menteri atau reshuffle, pernyataan Presiden dinilai banyak kalangan sebagai penekanan bagi para pembantunya.
Baca Juga: Usai 100 Hari Kerja, Benarkah Prabowo Siap Reshuffle Kabinet? Mensetneg Ikut Buka Suara Begini...
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo secara tegas memastikan akan segera melakukan Pembersihan jika para pembantunya tidak berinisiatif Membersihkan Diri.
Selain menyasar kepada para pembantunya yang dinilai Bandel dan tidak satu garis aliran, penegasan juga ditujukan bagi menteri Ndablek.
Terlebih dalam beberapa pekan, masyarakat sudah dibuat jengah dengan berbagai polemik sosial, ekonomi serta politik yang membuat resah.
Baca Juga: Hasil Reshuffle Kabinet Jokowi 2 Menteri PDIP Diganti, Pengamat: Upaya Bersih-bersih dari PDIP
Penggunaan serangga atau ulat dalam menu MBG, polemik pagar laut hingga masalah gas elpiji 3 kilogram merupakan contoh realitas penyebab cemas di masyarakat.
Sehubungan dengan adanya wacana reshuffle di kabinet Merah-Putih, Nurdin Hafid selaku Politisi Senior dari Partai Golkar memberikan pandangan.
Menurutnya, pernyataan tegas yang disampaikan Presiden merupakan bentuk motivasi yang ditujukan kepada para menteri sebagai pembantu tugas-tugasnya.
Baca Juga: Reshuffle Kabinet adalah Triangle Political Game yang Dimainkan Jokowi? Ini Kata Kader PDIP!
Penilaian positif masyarakat dalam 100 hari kepemimpinan, menurut Nurdin perlu terus dipertahankan dan bahkan dioptimalkan.
Sehingga visi masa depan Presiden mengenai Indonesia yang akan mensejahterakan rakyat, dapat secara konsisten terwujud.
“Menurut survei hasil kinerjanya kan bagus-bagus, angka 80,9 itu adalah kinerja seluruh menteri, pemerintahan Pak Prabowo,” ungkapnya.
Karena itu Nurdin menganggap, pernyataan presiden kepada para jajaran kabinet merupakan bentuk peringatan agar tidak nakal, bandel, neko-neko.
Pernyataan Presiden yang disampaikan saat pidato di HUT NU, menurut Nurdin bentuk ujaran sayang agar menterinya bekerja sesuai dengan aturan.
Terkait dengan polemik pagar laut, Nurdin menilai hal tersebut merupakan variabel yang terlepas dari 100 hari kepemimpinan Presiden Prabowo.
“Pagar laut itu kapan? Bukan 100 hari, jadi justru pemerintah sekarang inilah yang menyelesaikan itu,” imbuhnya.
Terkait dengan pernyataan Presiden, Pengamat Politik Adi Prayitno menilai merupakan suatu bentuk refleksi atas sejumlah situasi.
Tidak datang dari ruang hampa, pernyataan tegas Presiden Prabowo menurut Adi bukan sekedar peringatan tetapi bisa saja memiliki kedalaman tersendiri.
“Jarang-jarang lho Pak Prabowo memberikan statement yang bagi saya itu merupakan ultimatum politik bagi para pembantunya,” ujar Adi.
Karena itu sejumlah kekisruhan sosial di masyarakat, menurut Adi merupakan akar lahirnya pernyataan tegas Presiden Prabowo Subianto.***

Share this article
Sinyalemen akan terjadinya pergantian menteri atau reshuffle di Kabinet Merah Putih tengah menjadi sorotan.