AYOJAKARTA.COM - Megathrust yang mengancam Jawa dan Sumatera bagian selatan terasa semakin nyata pada daerah Banten dengan riwayat gempa dan tsunami yang pernah terjadi.
Berdasarkan letak geografisnya, Banten menjadi wilayah yang mendapat ancaman adanya potensi gempa megathrust Selat Sunda.
Provinsi Banten memiliki riwayat tsunami pada 2018 silam yang menewaskan lebih dari 400 korban jiwa, membuat pemerintah lebih gencar untuk melakukan mitigasi bencana guna menghadapi kemungkinan gempa megathrust maupun tsunami yang akan terjadi.
Selain itu, Banten juga sempat diguncang gempa berkekuatan 6,6 magnitudo di awal tahun 2022.
Dikutip AyoJakarta.com dari YouTube tvOneNews pada Senin (26/12/2022), Irma Narulita selaku Bupati Pandeglang Banten, menyampaikan bahwa dengan adanya ancaman bencana tersebut perlu adanya regulasi dari pemerintah.
Mengingat bahwa ternyata struktur bangunan pemukiman warga tidak kuat dan tidak bisa tahan untuk menghadapi bencana, perlu adanya penyelamatan warga.
“Sebagian rumah warga kami tuh 35-40 persen ya ngga pakai sub ngga pakai tulang gitu ya. Tapi kami ingin menyelamatkan yang menjadi pusatnya patahan lempengan megathrust itu ada di Kecamatan Sumur,” kata Irma Narulita.
Baca Juga: Waspada! Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Tsunami Aceh 2004 Bukti Adanya Gempa Megathrust?
BMKG sempat melakukan sekolah lapangan di beberapa wilayah Banten untuk mengedukasi masyarakat, namun Irma menilai itu perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Terima kasih BMKG telah melakukan dulu pernah ada sekolah lapangan dan sebagainya. Tapi tidak mungkin hanya satu kali dua kali saja. Itu harus terus-menerus yang harus dianggarkan oleh pemerintah kabupaten, provinsi, pemerintah pusat,” ucap Irma Narulita.
Ternyata masih banyak warga yang tinggal pada zona merah di bibir pantai dengan jumlah 1.127 rumah atau KK.
“Mereka sekarang tinggalnya dekat dengan pantai. Jadi saat kami ingin menyelamatkan mereka, ada 1.127 rumah atau KK yang tinggalnya di bibir pantai yang zona merah,” ungkap Irma Narulita.
“Jadi kalau ada tsunami 20-30 meter, habis mereka,” lanjutnya.
Baca Juga: Camat Labuan Banten Minta Warga Waspada Potensi Gempa Megathrust dan Tsunami! Ini Kata Dokter Tifa
Pemerintah daerah telah menyiapkan rambu-rambu, tanda jalur evakuasi dan menentukan titik kumpul pada saat terjadi bencana.
Namun salah satu warga mengaku bahwa belum ada jalur evakuasi dari pemerintah.
Ia mengatakan jika terjadi gempa maka warga akan mencari jalur evakuasi sendiri.
“Nyari jalan sendiri, ke sawah aja,” kata salah satu warga.
“Jalan pemerintah gimana? Ngga ada. Nggrusuk-nggrusuk sama rumput-rumput,” lanjutnya.
Baca Juga: 10 Gempa Megathrust Ternyata Sudah Pernah Terjadi di Pulau Jawa, Simak Rekam Jejaknya!
Menurut pengakuan warga, wilayah Banten memang kerap kali diguncang gempa, pada setiap tahunnya pasti ada gempa yang mereka rasakan.
Irma Narulita mengaku bahwa belum semua warga Banten teredukasi perihal bencana dan cara melakukan evakuasi.
“Ada sebagian masyarakat yang tidak teredukasi semua tidak tersosialisasikan semua itu mohon maaf,” kata Irma Narulita.
Baca Juga: Prediksi Gempa Megathrust dan Tsunami 2023, Antara Ilmuwan, Ramalan dan Berita Hoax
Bupati Pandeglang ini berharap bisa mendapat anggaran dari pemerintah provinsi dan juga pemerintah pusat untuk bisa mengedukasi warga secara merata.
Menurut Irma, belum semua orang teredukasi.
Ada masyarakat yang bisa tahu melalui tv ataupun dari literasi, tapi ada sebagian orang yang sehari-harinya sibuk berdagang atau beraktivitas di sawah yang belum mengetahui tentang mitigasi bencana.
Karena itulah diperlukan sosialisasi untuk mitigasi bencana yang dananya tidak cukup hanya dari daerah jasa, namun dibutuhkan bantuan dari pemerintah provinsi dan juga pemerintah pusat.***