AYOJAKARTA.COM - Sidang kasus pembunuhan Brigadir J pada Rabu 21 Desember 2022 menghadirkan saksi Ahli Psikologi Forensik Reni Kusumowardhani.
Dalam kesaksiannya, Reni Kusumowardhani mengungkap hasil pemeriksaan psikologis para terdakwa pembunuhan Brigadir J.
Yaitu Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Ricky Rizal, Richard Eliezer dan Kuat Maruf.
Tak hanya itu, saksi ahli juga mengungkap profil psikologis Brigadir J.
Lantas seperti apa hasilnya? berikut ulasan lengkapnya dikutip ayojakarta.com dari YouTube tvOneNews pada Jumat (23/12/2022).
Berdasarkan hasil penelitian Ahli Psikologi Forensik, Nofriansyah Yosua Hutabarat dinilai sebagai sosok yang tak memiliki riwayat melanggar aturan.
Semasa hidupnya, ia juga tidak pernah membantah dan menjalankan peran ADC dengan baik.
Namun, Ahli Psikologi Forensik mengungkapkan ada perubahan sikap yang terjadi pada Yosua setelah ditunjuk sebagai Kepala Rumah Tangga atau Karungga.
Baca Juga: Richard Eliezer Sebut Rekaman CCTV Lainnya Tercecer! Ahli Digital Forensik Ungkap Berjumlah 53
Ahli Psikologi Forensik mengungkapkan ada keterbatasan data untuk menarik simpulan profil psikologis Nofriansyah Yosua Hutabarat karena yang bersangkutan sudah meninggal dunia.
Meskipun demikian, diperoleh informasi yang konsisten dari para informas dan tersangka mengenai beberapa hal yang diungkapkan Ahli Psikologi Forensik Reni Kusumowardhani berikut ini.
"Kecerdasan diduga tergolong rata-rata dan berfungsi dalam batas normal. Tidak dijumpai adanya riawayat tingkah laku Yosua dalam melanggar aturan, terlibat perkelahian dan penyalahgunaan narkotika NAPZA," ungkap Reni Kusumowardhani.
Baca Juga: Momen Chuck Putranto Dicecar Hakim, Soal Perintah Amankan DVR CCTV di Rumah Ferdy Sambo!
Semasa kecil hingga remaja, Yosua dikenal sebagai anak dengan karakter baik dan aktif serta positif di lingkungannya.
"Di masa kecil sampai di usia remaja, ia dikenal sebagai anak dengan karakter yang baik, aktif dalam berbagai kegiatan dan positif di lingkungannya," tambahnya.
Di awal kariernya sebagai polisi, Yosua dikenal sebagai anggota yang cekatan hingga ia layak direkomendasikan sebagai ADC.
"Lalu di awal kerjanya sebagai polisi dikenal sebagai anggota yang cekatan, memiliki dedikasi, tidak pernah membatasi, patuh, mampu bekerja dengan baik, tidak menonjol dan layak untuk direkomendasikan sebagai ADC pejabat tinggi kepolisian," lanjut Reni Kusumowardhani.
Baca Juga: Richard Eliezer Sebut Rekaman CCTV Lainnya Tercecer! Ahli Digital Forensik Ungkap Berjumlah 53
Awalnya Yosua dinilai dapat bekerja dan menjalankan peran ADC dengan baik.
Namun, ada perubahan yang terjadi pada sikap Yosua sejak dia menjadi Kepala Rumah Tangga atau Karungga.
"Didapatkan pula informasi dari teman-teman dan rekan yang saling bersesuaian dan konsisten bahwa awalnya Yosua dinilai dapat bekerja dan menjalankan peran ADC dengan baik dan didapatkan informasi ada perubahan sikap sejak diberi kepercayaaan sebagai Kepala Rumah Tangga dalam istilah mereka dan ADC yang ditugaskan untuk mendampingi Ibu Putri," kata Reni Kusumowardhani.
Penampilannya terkesan lebih mewah dan menunjukkan power serta dominasi.
"Penampilannya menurut rekan-rekannya dan juga ini ada beberapa informasi yang bersesuaian konsisten dengan informasi dari Jambi, penampilannya terkesan lebih mewah dibanding sebelumnya, menunjukkan power dan dominasi terhadap ADC dan perangkat rumah tangga lain," terangnya.
Ada kalanya, Yosua juga berperilaku tak selayaknya sebagai ADC.
"Berperilaku yang dinilai ada kalanya tidak selayaknya dilakukan oleh ADC," tambahnya.
Hal itu karena ia merasa lebih dipercaya dan diistimewakan oleh Putri Candrawathi.
"Merasa lebih dipercaya dan diistimewakan oleh Ibu Putri," lanjutnya.
Bahkan, Yosua dinilai memiliki keberanian untuk menunda atau tidak melaksanakan perintah dari atasan.
"Memiliki keberanian untuk menunda serta tidak melaksanakan perintah dari atasan," kata Reni Kusumowardhani.
Perubahan sikapnya yang terakhir adalah lebih mudah tersinggung dan menampilkan kemarahannya.
"Lebih mudah tersinggung dan menampilkan respons kemarahan," pungkasnya.***