AYOJAKARTA.COM - Gempa bumi termasuk bencana yang ditakutkan oleh banyak orang.
Kedatangannya yang tiba-tiba sering kali memberikan trauma yang mendalam pada korbannya.
Tidak hanya itu, meski tidak semua berakhir dengan tsunami, isu tersebut seringkali membuat ketakutan para korban beberapa saat setelah gempa terjadi.
Kabar yang paling meresahkan publik adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktifnya Sesar Baribis.
Sesar Baribis ini merupakan jalur patahan yang terletak berjarak 25 km di Selatan Jakarta.
Penelitian menyebutkan bahwa pada saat ini Sesar Baribis terpantau aktif.
Baca Juga: Jakarta Waspada! Sesar Baribis Aktif, Hasil Microearthquake: 46 Gempa Terjadi Selama 60 Hari
Ahli mengatakan bahwa pada kondisi saat ini Sesar Baribis berada dalam posisi terkunci, namun nanti ketika energi peregangan yang akhirnya diakumulasikan terlepaskan maka akan menimbulkan gempa yang besar.
Dalam wawancaranya di YouTube Channel Harian Kompas (12/12/2022) guru besar Fakultas Pertambangan dan Perminyakan ITB Sri Widiyantoro dan Team memaparkan mengenai kecemasannya terhadap Sesar Baribis tersebut.
"Yang kami tidak inginkan, tetapi ada potensi itu adalah yang jarang muncul gempanya, takutnya sedang mengakumulasi energi, sehingga kalau terlepas sekaligus energinya cukup kuat seperti yang terjadi didekat Cianjur," ucap Sri Widiyantoro.
Baca Juga: Waspada Sesar Baribis Aktif, Sebanyak 29 Juta Jiwa di Wilayah Megapolitan Jabodetabek Terancam
Selain itu, sebuah jurnal ilmiah mengenai geologi yang diterbitkan oleh Universitas Padjadjaran atau Unpad menganalisis Sesar Baribis tersebut.
Dikutip dari jurnal.unpad.ac.id, jurnal yang berjudul Analisis Kerentanan Gempa pada Jalur Sesar Baribis menggunakan Metode Microearthquake (MEQ) ini diterbitkan pada tahun 2020.
Berdasarkan jurnal tersebut Sesar Baribis terpantau aktif.
Hal ini didasarkan pada seismometer atau alat yang digunakan untuk mendeteksi gempa bumi, selama 60 hari terjadi 46 gempa dari skala 0,1 Mw (ukuran dari besaran gempa bumi) hingga 3,2 Mw.
Kedalaman gempa terdangkal terjadi pada jarak 1 km hingga yang terdalam 85 km, namun sumber gempa dominan terjadi pada kedalaman 50 km.
Lebih lanjut, Sri Widiyantoro mengungkapkan bahwa meskipun belum diketahui kapan gempa tersebut terjadi diperlukan kewaspadaan persiapannya harus lebih baik.
"Sebenarnya bukan nakut-nakuti tapi mengajak terus waspada ya, toh kita tidak tahu kapan terjadinya," ucap Sri Widiyantoro.***