News

Beda Sesar dan Gempa Megathrust, Berikut Penjelasan BMKG

Oleh: Ardiany Fitri Sholekah Senin 12 Des 2022, 15:28 WIB
Beda Sesar dan Gempa Megathrust, Berikut Penjelasan Ahli

AYOJAKARTA.COM - Gempa bumi yang terus mengguncang wilayah Indonesia belakangan ini membuat masyarakat gusar.

Sebagian dari korban merasakan trauma yang diakibatkan oleh bencana tersebut, belum termasuk banyaknya korban jiwa, korban luka dan menyebabkan sebagian orang kehilangan tempat tinggal.

Gempa bumi yang melanda wilayah Kabupaten Cianjur November lalu termasuk bencana yang banyak menelan korban jiwa.

Baca Juga: BMKG Imbau 9 Desa di Atas Sesar Cugenang Dijadikan Kawasan Terbuka Tanpa Bangunan

Para ahli mengatakan bahwa gempa bumi tersebut disebabkan oleh pergerakan sesar yang berada di wilayah Cianjur.

Setelah gempa Cianjur terjadi, masyarakat semakin dibuat paranoid karena banyaknya kabar tentang gempa bumi besar atau megathrust yang diperkirakan para ilmuwan akan mengenai antara Jawa dan Sumatra.

Lantas apa yang beda antara gempa bumi yang disebabkan oleh sesar dan gempa bumi megathrust?

Baca Juga: Waspada! Terdapat 6 Sesar Aktif Sepanjang Pulau Jawa, Membentang Mulai Jawa Barat Hingga Jawa Timur

Sesar

Disebutkan dalam sebuah cuitan akun Twitter @DaryonoBMKG (12/12/2022) yang merupakan Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG menjelaskan mengenai pengertian dari sesar.

"Sesar merupakan rekahan atau lempeng kerak bumi yang bergeser," cuit Daryono (11/12/2022).

Baca Juga: Waspada Gempa Megathrust hingga Tsunami Dahysat, Ini Deretan Sesar yang Aktif di Indonesia, Apa Saja?

Lebih lanjut, Daryono menjelaskan mengenai pengertian sesar.

"Sesar merupakan bagian dari kulit bumi yang patah," ujar Daryono dalam wawancara melalui WhatsApp dengan tim Ayojakarta.com Senin (12/12/2022).

Hal senada disebutkan pula dalam jurnal ilmiah oleh Fakultas Teknik Jember yang menyebutkan bahwa Sesar/patahan/fault merupakan suatu gejala adanya pergeseran lapisan batuan akibat gaya tekan kerak bumi.

Baca Juga: Jakarta Waspada! Sesar Baribis Aktif, Penelitian Microearthquake Sebut Terjadi 46 Kali Gempa dalam 60 Hari

Dalam jurnal tersebut dijelaskan pula bahwa kerak bumi tersusun atas batuan yang dapat mengalami gaya penekanan sehingga terjadi patahan.

Karena gesekan dan kekakuan batuan, batuan tidak bisa meluncur atau saling melewati satu sama lain dengan mudah.

Seperti aktivitas sesar yang ada di Cianjur, daerah yang dilewati sesar tersebut merupakan area berbahaya dan rawan kerusakan berat saat sesar tersebut aktif.

Baca Juga: 9 Desa di Cianjur Disebut Zona Bahaya karena Muncul Sesar Baru Cugenang, BMKG Minta Pemkab Segera Relokasi

Megathrust

Megathrust atau gempa besar ini sering diungkapkan oleh para ilmuwan dan diprediksi akan melanda wilayah Indonesia.

"Megathrust ada di Samudra Hindia selatan Jawa dan yang menjadi sumber gempa tumbukan lempeng," kata Daryono.

Baca Juga: Waspada Sesar Baribis Aktif, Sebanyak 29 Juta Jiwa di Wilayah Megapolitan Jabodetabek Terancam

Dikutip dari YouTube Narasi Newsroom, permukaan lempeng yang berupa lempeng benua atau samudra selalu bergerak selama jutaan tahun.

Indonesia dilewati oleh tiga lempeng yaitu lempeng Indo Australia di sebelah selatan, lempeng Pasifik di sebelah Timur dan lempeng Eurasia di sebelah Utara.

Gerakan permukaan lempeng tersebut bisa berupa saling gesek, menjauh dan bertumbukan.

Baca Juga: Terkonfirmasi! Sesar Baru Ditemukan: Patahan Cugenang Menjadi Pengebab Gempa Cianjur 5,6 Magnitudo

Tumbukan pada lempeng tersebut yang biasanya disebut dengan subduksi atau keadaan dimana lempeng samudra menyelinap ke bawah lempeng benua.

Tumbukan tersebut memiliki kekuatan yang sangat besar karena memiliki perbedaan massa jenis, hal inilah yang disebut megathrust.

Kepala PRTH BRIN, Dr. Ing. Widjo Kongko menyampaikan penjelasannya mengenai megathrust.

Baca Juga: Analisis Sesar Baribis oleh Unpad, Hasil Perekaman Microearthquake: 46 Gempa Terjadi dalam Jangka 60 Hari!

"Nah ini batas-batas tumbukan itu adalah daerah megathrust dan kemudian itu yang bisa menyebabkan gempa bumi dengan tinggi," ucap Dr. Ing. Widjo Kongko.

Dr. Ing Widjo Kongko pun menjelaskan tentang zona Subduksi di Indonesia yang terbagi atas 13 segmen tersebar dari Aceh sampai Papua dengan potensi gempa 8,5 SR hingga 9 SR.

"Itu daerah subduksi semua, dan itu potensi gempa megathrust, istilahnya begitu, dan itu besar, bisa sampai skala 8 keatas 8,5 bahkan 9, kaya yang di Aceh," ucap Widji Kongko.

Baca Juga: Waduh! 9 Zona Bahaya Sesar Cugenang Sudah Didirikan Rumah, Mana Saja dan Harus Bagaimana?

Jadi berdasarkan keterangan ahli, gempa yang disebabkan oleh sesar berbeda dengan gempa megathrust.

Hal ini disampaikan oleh Daryono bahwa sesar tidak dapat memicu terjadinya gempa bumi megathrust salah satu contoh sesar adalah sesar baribis.

"Sesar Baribis itu tidak bisa memicu megathrust," jelas Daryono.

Selain itu aktivitas gempa bumi megathrust pun tidak semudah itu bisa mempengaruhi pergerakan sesar-sesar yang berada di sekitar pusat gempa megathrust.***

Reporter Ardiany Fitri Sholekah
Editor Desi Kris