AYOJAKARTA.COM -- Monkeypox atau Mpox merupakan penyakit menular yang saat ini sedang ramai diperbincangkan.
Mulanya, Mpox ini merupakan salah satu penyakit zoonosis, maksudnya penularan penyakit ini dari hewan ke manusia.
Namun lambat laun penyakit ini bisa menular dari manusia ke manusia yang kemudian pada 28 November 2022, WHO mengubah namanya dari Monkeypox menjadi mpox.
Baca Juga: Waspada! 3 Kasus Baru Penyebaran Virus Mpox Telah Ditemukan di Dunia, Adakah yang di Indonesia?
Perubahan nama tersebut bertujuan untuk menghindari rasisme dan juga stigmatisasi terhadap penderita yang terjangkit virus tersebut.
Belakangan ini penyebaran virus Mpox ini tengah menjadi perhatian serius bagi pemerintah Indonesia.
Hal itu diwujudkan dengan imbauan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terhadap masyarakat untuk waspada terhadap penyebaran virus tersebut.
Nah, salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi dampak penyebaran virus Mpox ini adalah dengan mengetahui bagaimana cara penularan virus Mpox dari manusia ke manusia.
Baca Juga: Disimak Ya para Orang Tua! Jubir WHO Sebut 2 Jenis Genetik Virus Mpox Bisa Berdampak Bagi Anak-anak
Dikutip dari laman resmi infeksimerging.kemkes.go.id pada Minggu, 25 Agustus 2024, berikut penjelasan mengenai bagaimana cara penyebaran virus mpox dari manusia ke manusia.
Untuk diketahui, virus mpox dapat menyebar dari manusia ke manusia jika terjadi kontak erat dengan seseorang yang memiliki ruam akibat terjangkit mpox.
Kontak erat ini meliputi tatap muka, bersentuhan dari kulit ke kulit, sentuhan mulut ke mulut maupun mulut ke kulit, termasuk juga adanya kontak seksual.
Baca Juga: WHO Nyatakan Perang Terhadap Potensi Cacar Monyet, Ini Fakta Virus Mpox yang Perlu Diketahui!
Terkait dengan berapa lama penderita yang terjangkit mpox masih bisa menularkan virus tersebut, hingga saat ini pihak WHO masih terus mempelajari.
Namun sementara ini diinformasikan jika penderita masih bisa menularkan virus mpox sampai dalam kondisi semua lesi penderita dalam kondisi berkerak.
Kemudian keropeng sudah jatuh dan lapisan kulit yang baru sudah terbentuk di bawahnya, nah di tahap seperti ini penderita masih bisa menularkan.
Perlu diketahui juga bahwa virus ini bisa menyebar dari ibu hamil ke janin dengan melalui kontak dari kulit ke kulit ketika melahirkan.
Akan tetapi meski infeksi tanpa gejala juga sudah dilaporkan namun tidak dapat dipastikan apakah kemudian penderita yang tanpa gejala bisa menyebarkan penyakit ini atau bisa menyebarkan melalui cairan tubuh lainnya.***