Sport

Kesaksian Penjual Es Dawet Stadion Saat Tragedi Kanjuruhan, Ungkap Gas Air Mata Bukan Faktor Satu-satunya!

Oleh: Dyah Arum Ratri Selasa 04 Okt 2022, 11:24 WIB
Kesaksian Penjual Es Dawet Stadion Saat Tragedi Kanjuruhan, Ungkap Gas Air Mata Bukan Faktor Satu-satunya!

AYOJAKARTA.COM - Tragedi kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang masih meninggalkan cerita duka.

Diketahui tragedi yang menimbulkan korban jiwa hingga 100 orang lebih tersebut terjadi saat digelarnya laga pertandingan sepak bola Arema VS Persebaya.

Pertandingan dua kubu sengit tersebut berlangsung pada Sabtu 1 Oktober 2022.

Pada saat pertandingan berlangsung awalnya nampak lancar seperti biasa.

Sampai pada akhir pertandingan dimenangkan oleh tim Persebaya dengan skor 3-2.

Baca Juga: Profil AKBP Ferli Hidayat, Kapolres Malang yang Copot Jabatan Buntut Tragedi Kanjuruhan, Ini Perannya

Hal itu sontak membuat suporter Arema yang dikenal dengan nama Aremania emosi dan langsung turun ke lapangan.

Mereka kemudian melempari para pemain Persebaya dengan botol, batu dan barang-barang lain.

Apalagi diketahui memang dua kubu ini memiliki suporter dengan rivalitas yang tinggi.

Aparat gabungan TNI dan Polri langsung bergerak cepat menghalau para suporter tersebut.

Namun karena keadaan semakin memanas akhirnya petugas keamanan memutuskan untuk menyemprotkan gas air mata guna melerai kericuhan.

Hal inilah yang memicu awal mula terjadinya banyak korban yang berjatuhan.

Namun seorang saksi mata yang berada di sekitar Stadion Kanjuruhan menuturkan hal berbeda.

Saksi tersebut adalah seorang penjual es dawet yang memang sudah biasa berdagang di warungnya yang berada di dekat Stadion Kanjuruhan.

Baca Juga: Tak Mau Disalahkan atas Tragedi Kanjuruhan, Anggota Polisi Ini Kembali Serang: Balikin Nyawa Adikku!

Dikutip AyoJakarta.com dari akun TikTok El Natara, Selasa (4/10/2022), diinformasikan secara jelas kesaksian yang dituturkan oleh penjual es dawet tersebut.

Tidak diketahui identitas dari suara perempuan penjual es dawet yang menceritakan kejadian di Stadion Kanjuruhan itu.

Namun dari suaranya, sosok penjual es dawet tersebut seperti wanita paruh baya.

Wanita penjual es tersebut menjelaskan dalam Bahasa Jawa Timuran dan Bahasa Indonesia bahwa sebenarnya gas air mata bukan faktor utama banyaknya korban.

“Yang lebih parah itu akhirnya mereka berdesakan keluar karena menghindari gas air mata," ujar wanita tersebut mengawali ceritanya.

“Nah, gas air matanya sebetulnya sih gak terlalu anu kok, cuman ini desak-desakan sama dorong-dorongan dan tendang-tendangan sesama suporter," tuturnya.

Baca Juga: Nugroho Setiawan, Satu-satunya Pemilik Lisensi FIFA Security Officer Buka Suara soal Tragedi Kanjuruhan

Penjual es tersebut juga menegaskan bahwa tragedi tersebut tidak sepenuhnya kesalahan pihak keamanan namun juga faktor dari suporter itu sendiri.

“Makanya kita itu gak bisa nyalahin polisinya juga gak bisa menyalahkan suporternya karena supporternya itu intinya dia itu gengsi kenapa bisa kalah di kandang sendiri," ungkapnya sebagai orang yang menyaksikan sendiri kerusuhan saat itu.

Bahkan ia juga melihat dari siaran televisi bahwa para suporter Aremania sudah tampak memanas sebelum pertandingan usai.

“TV ku itu loh aku nyalain pertandingan sepak bola. Itu mereka teriak maki-maki nggak karuan," tuturnya.

“Dah tawuran aja begini tawuran aja gitulah. Itu ada Pak Polisi juga di situ, cuma senyam senyum aja Pak Polisinya," pungkas saksi mata yang tidak diketahui identitasnya tersebut.***

Reporter Dyah Arum Ratri
Editor Fathul Amanah