Teknologi

Kemenhub Kaji Skytrain Jabodetabek yang Akan jadi Feeder MRT-LRT: Bisa Hubungan Jakarta, Tangsel hingga Jonggol

Oleh: Desi Kris Senin 26 Jan 2026, 11:26 WIB
Skytrain Jabodetabek (Sumber: soekarnohatta.injourneyairports.id)

AYOJAKARTA.COM - Kementerian Perhubungan saat ini tengah mengkaji Skytrain Jabodetabek atau kereta layang.

Moda transportasi ini direncanakan menjadi feeder atau pengumpan bagi MRT dan LRT, sekaligus menghubungkan sejumlah kawasan strategis mulai dari Jakarta, Tangerang Selatan (Tangsel), hingga Jonggol, Jawa Barat.

Kajian skytrain ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem transportasi publik terintegrasi di kawasan aglomerasi Jabodetabek.

Transportasi ini dinilai punya keunggulan dari sisi efisiensi lahan karena dibangun melayang, serta mampu menjangkau kawasan yang belum terlayani moda rel eksisting.

Baca Juga: Kepala SPPG di Banyuwangi Keluhkan Penolakan MBG di Sekolah Elite, Wakil Kepala BGN: Pihak Sekolah Bisa Menolak

Menariknya, skytrain ini dirancang sebagai kereta api berpenggerak mandiri dan bukan berbasis kabel seperti kereta gantung.

Skytrain berpotensi memangkas waktu tempuh komuter pinggiran kota hingga 30–40 persen.

Hal ini karena jalur layang relatif bebas hambatan dibanding jalan arteri.

Moda transportasi ini dapat mengatasi firs mile* and last mile* di Bogor, Bekasi dan Tangerang.

Baca Juga: Kabar Gembira! Bansos PKH dan BPNT Mulai Cair Februari 2026 kepada 18 Juta KPM, Ada Kenaikan?

Saat ini salat satu kordiror yang sedang dikaji adalah arah selatan Jakarta yakni rute BSD-Lebak Bulus.

Kemudian alternatif jalur bisa melewati Bintaro atau Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

Panjang rute per Maret 2025 lalu adalah 21,2 km dengan biaya pembangunan senilai Rp5 miliar (Rp238 miliar/km).

Lalu kawasan timur Jabodetabek yakni Skytrain Cibubur menghubungkan Mekarsari-Cariu (Jonggol).

Baca Juga: Pramono akan Kembangkan Kawasan Danau Cincin, Bakal Ada Museum

Ini melalui rute Mekarsari-Cibubur dengan alternatif jalur lewat Cariu, Jonggol, Kab Bogor.

Panjang rute di koridor timur ini mencapai 20 km dengan biaya pembangunan Rp6 triliun (Rp300 miliar/km).***

Reporter Desi Kris
Editor Desi Kris