AYOJAKARTA.COM - Pakar komunikasi politik Ray Rangkuti angkat bicara mengenai film dokumenter "Dirty Vote" yang menuai kontroversi menjelang Pilpres 2024.
Film ini dituding menyebarkan fitnah dan propaganda politik, namun Rangkuti memiliki pandangan berbeda.
"Sejak kapan film diukur dengan derajat keilmiahan?" tanya Rangkuti kepada Zilvia Iskandar dalam sebuah wawancara di Metro TV, Senin 12 Februari 2024.
"Ukuran ilmiah di film berbeda dengan di dunia akademik. Tidak bisa disamakan begitu saja," lanjut dia.
Menurut Rangkuti, film "Dirty Vote" lebih tepat dianalisis sebagai karya seni yang merangkai peristiwa dan data untuk menjelaskan alur cerita.
"Seperti seorang lawyer yang merangkai peristiwa demi peristiwa dan merangkumnya dalam satu kalimat," ujarnya.
"Apakah kalimat itu tepat atau tidak, ya pengadilan yang memutuskan. Tapi film ini mengungkap berbagai peristiwa dan merangkainya dalam satu kesimpulan," kata Rangkuti.
Baca Juga: Film Dirty Vote Bongkar Syarat Pemilu dan Capres Menang 1 Putaran
Rangkuti menegaskan bahwa data yang digunakan dalam film "Dirty Vote" adalah data yang berkembang di masyarakat, seperti dugaan adanya Pj yang mendukung kelompok tertentu, bansos, dan seterusnya.
"Data-data itu dirangkaikan dan dibuat sistematis untuk mencari tahu alur peristiwa. Apakah berdiri sendiri atau dirancang oleh orang atau kelompok tertentu," jelas Rangkuti.
"Apakah kesimpulannya tepat atau tidak, tidak ada wadah yang bisa menghakimi itu. Tapi apakah data-datanya tepat atau tidak, saya kira data-data itu berkembang selama ini," imbuhnya.
Rangkuti menekankan bahwa film "Dirty Vote" tidak hanya mengangkat data tentang satu paslon, tetapi juga paslon lain seperti Ganjar dan Anies.
"Mereka hanya mencoba merangkai data-data itu semua dan menunjukkannya di film," kata Rangkuti.
Lebih lanjut, Rangkuti mengatakan bahwa film "Dirty Vote" adalah bagian dari dinamika demokrasi dan kontestasi politik.
"Film ini membuka ruang diskusi publik tentang potensi kecurangan dalam pemilu," ujarnya.
"Sebagai masyarakat, kita perlu mencermati film ini secara kritis dan tidak terjebak dalam polarisasi politik. Kita harus melihat film ini sebagai bahan diskusi dan refleksi untuk mewujudkan pemilu yang bersih dan adil," pungkas Rangkuti.