TEBET, AYOJAKARTA.COM – Boleh dibilang tidak ada sektor usaha yang tidak terganggu oleh datangnya pandemi Covid-19. Bahkan, di seluruh dunia. Namun, selain menomorsatukan urusan kesehatan, kegiatan ekonomi harus tetap berjalan. Tentu dengan berbagai penyesuaian dengan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dan protokol Kesehatan.
Hal itu pula yang dialami oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM), badan usaha milik negara (BUMN) yang memiliki fokus mengurusi permodalan dan pembinaan usaha mikro, kecil, dan menengah. Di tengah pandemi, BUMN itu harus tetap mengucurkan kredit ultramikro, misalnya, kepada pedagang kaki lima dan pedagang yang berkeliling kampung.
Manajemen PNM jelas harus berpikir keras di tengah pandemi Covid-19 ini. Pasalnya, sampai dengan Selasa 25 Agustus 2020, BUMN ini harus mengurusi pembiayaan ultramikro kepada 6,52 juta nasabah. Tersebar di berbagai penjuru Indonesia.
“Kami mengucurkan pembiayaan untuk nasabah ultramikro itu lewat program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera yang sering disingkat Mekaar. Besarannya Rp2 juta sampai Rp5 juta,” ujar Direktur Utama PT PNM Arief Mulyadi kepada Ayojakarta, Rabu 26 Agustus 2020.
AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Di Balik Lelaki Sukses, Ada…?
Sampai dengan 25 Agustus 2020, penyaluran pembiayaan PNM untuk program Mekaar mencapai Rp10,795 triliun. Selain Mekaar, PNM juga memiliki program Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) yang pembiayaannya sudah mencapai Rp1,1 triliun.
Mandat dari negara untuk mengurusi sektor usaha ini, jelas merupakan tantangan tersendiri bagi insan PNM, begitu karyawan BUMN itu biasa disebut. Sebagai ujung tombak adalah sekitar 38 ribuan para account officer (AO) alias petugas yang langsung turun langsung ke nasabah.
“Kami di Kantor Pusat harus mengacungkan jempol atas kerja keras teman-teman di lapangan. Tantangan mereka semakin bertambah di tengah pandemi ini.”
Pada masa pandemi, menurut Arief, justru harus ada ‘jaminan’ agar kegiatan ekonomi di kalangan bawah bisa terus bergulir—tentu dengan mengedepankan AKB dan protokol kesehatan.
“Saudara-saudara kita di masyarakat bawah kan tidak punya tabungan. Jadi mereka harus terus bekerja dan tetap sehat. Kalau tidak begitu, bagaimana mereka bisa memenuhi kebutuhan dasar?”
AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Cerita Tentang Komeng Tapi Bukan
Arief juga mengapresiasi langkah pemerintah yang terus menggelontorkan bantuan untuk masyarakat dalam berbagai bentuk. “Dengan begitu, harapannya, ekonomi tetap bisa mengeliat lagi, meski tidak bisa langsung kembali normal.”
Berdasarkan laporan yang diterima Arief dari berbagai daerah, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)—sebuah kebijakan yang memang harus diambil untuk mencegah penyebaran virus Corona—berpengaruh besar terhadap kegiatan ekonomi masyarakat bawah.
Bagaimana tidak. Perkantoran banyak yang meliburkan diri sehingga tidak ada karyawan yang belanja di warung nasi. Sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh, sehingga murid-murid tidak ada yang jajan. Atau juga kawasan wisata yang masih belum normal sehingga pedagang souvenir kesulitan menjajakan barang mereka.
Untuk itu, menurut Arief, harus ada upaya untuk membuat bisnis di tingkatan itu tetap bisa berjalan. “Kami di PNM misalnya mengarahkan nasabah melakukan transisi usaha. Tentu disesuaikan dengan kondisi dan memiliki potensi pasar yang ada. Saat ini sudah mulai bergulir.”
Berkaca pada pengalaman PNM selama ini, Arief masih optimistis bahwa pedagang kecil dan usaha ultramikro lain bisa terus bertumbuh. Apalagi sekarang masyarakat banyak menerima bantuan pemerintah antara lain bantuan presiden produktif untuk usaha mikro. “Banpres produktif itu jelas amat membantu mereka sekaligus mengakselerasi pemulihan ekonomi.”
Sebagai contoh, plafon pinjaman ketika awal-awal program Mekaar digulirkan oleh PNM sebesar Rp2 juta meningkat menjadi Rp2,5 juta hingga Rp5 juta, menyesuaikan peningkatan usaha termasuk omzet nasabah.
Untuk menjaga konsistensi dan kesinambungan pertumbuhan usaha nasabah yang semakin meningkat, menurut Arief, insan PNM juga semakin intens memberikan pendampingan. “Kalau tidak ada pendampingan khusus, pilihannya hanya dua; tetap jalan namun tidak berkembang atau malah terhenti usahanya. Alhamdullilah sih, mayoritas nasabah PNM bertumbuh.”
AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Sepotong Roti dari Bilangan, Daerah Paling Top di Jakarta!