Ekonomi

Mana yang Lebih Bahaya Saat Rupiah Loyo, Redenominasi atau Devaluasi? Ini Kata Pakar Ekonomi Maybank Indonesia

Oleh: Katarina Erlita Minggu 14 Jun 2026, 13:53 WIB
I Made Budhi P Artha, Head of Global Market Maybank Indonesia Memberikan Penjelasan dalam Sesi Pelatihan Maybank Journalis Fellowship, Kamis, 11 Juni 2026. (Sumber: AYOJAKARTA.COM | Foto: Katarina Erlita)

AYOJAKARTA.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan tajam.

Pada perdagangan Juni 2026, mata uang Garuda menunjukkan tren melemah yang cukup signifikan.

Berdasarkan data Kamis, 11 Juni 2026, rupiah ditutup pada level Rp17.985 per dolar AS.

Fenomena ini memicu perdebatan di masyarakat mengenai langkah apa yang harus diambil pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Banyak pihak mulai membicarakan kembali wacana redenominasi untuk menyederhanakan nominal uang yang saat ini terlihat sangat besar.

Namun, apakah redenominasi benar-benar solusi di tengah kondisi rupiah yang loyo?

I Made Budhi P Artha, Head of Global Market Maybank Indonesia, memberikan penjelasan mendalam mengenai hal ini.

Dalam sesi pelatihan Maybank Journalist Festival 2026, ia meluruskan perbedaan besar antara redenominasi dan devaluasi.

"Redenominasi itu berbeda dengan devaluasi," jelas I Made Budhi P Artha.

Beliau menekankan bahwa situasi yang dihadapi Indonesia saat ini adalah pelemahan nilai tukar yang mengarah pada devaluasi.

Redenominasi hanyalah pemotongan angka nominal tanpa mengurangi nilai ekonomi dari uang tersebut.

Intinya, redenominasi hanya mengubah tampilan angka agar lebih ringkas untuk memudahkan transaksi.

Lantas, mana yang lebih berbahaya bagi ekonomi masyarakat? Pakar ekonomi Maybank Indonesia itu menegaskan bahwa devaluasi jauh lebih mengancam stabilitas daya beli.

"Lebih bahaya devaluasi sebetulnya, karena nilai kemampuan beli kita itu berkurang," tuturnya.

Saat rupiah terdevaluasi, harga barang-barang akan cenderung melonjak. Akibatnya, jumlah uang yang sama tidak lagi bisa membeli jumlah barang yang sama seperti sebelumnya.

Pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh berbagai faktor eksternal yang kuat.

Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama menguatnya greenback atau dolar AS.

Kondisi ini menciptakan sentimen risk-off di pasar modal global. Investor cenderung menarik uang mereka dari pasar ekuitas domestik, yang menyebabkan terjadinya aliran modal keluar atau outflow.

Tekanan terhadap rupiah juga dibarengi dengan data ekonomi domestik yang kurang menggembirakan.

Penjualan ritel di dalam negeri tercatat turun sebesar 3,7%, yang semakin membebani sentimen pasar.

Secara regional, mayoritas mata uang Asia juga mengalami nasib serupa, dengan pelemahan pada won Korea, rupee India, hingga ringgit Malaysia.

Analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS dalam waktu dekat.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita