Internasional

Langkah Awal Bobibos Taklukkan Pasar ASEAN, Timor Leste Siap Nikmati Energi Terbarukan dari Jerami

Oleh: Katarina Erlita Rabu 08 Apr 2026, 20:18 WIB
Bobibos, Bahan Bakar Ramah Lingkungan dari Jerami. (Sumber: Instagram.com/@bobibos_)

AYOJAKARTA.COM - Langkah strategis bahan bakar nabati berbasis jerami, Bobibos, akhirnya memasuki fase krusial.

Produk inovasi energi lokal ini dipastikan akan memulai produksi massal di Timor Leste pada April 2026, menandai babak awal ekspansi ke pasar ASEAN.

Dikembangkan oleh PT Inti Sinergi Formula, Bobibos menjadi salah satu inovasi bioenergi yang mencuri perhatian karena memanfaatkan limbah pertanian berupa jerami.

Selain ramah lingkungan, bahan bakar ini digadang-gadang mampu menjadi alternatif strategis untuk menekan ketergantungan impor BBM.

Anggota DPR RI sekaligus pembina Bobibos, Mulyadi, mengungkapkan bahwa ekspansi ke Timor Leste dilakukan melalui skema joint venture.

Dalam kerja sama tersebut, 51% saham dimiliki perusahaan lokal yang direkomendasikan pemerintah Timor Leste, sementara Bobibos Indonesia memegang 49%.

“Kerja sama ini bersifat proporsional. Mitra lokal menyiapkan infrastruktur seperti pabrik, gudang, hingga lahan pertanian, sementara kami fokus pada teknologi dan mesin produksi,” jelas Mulyadi.

Model bisnis ini tidak hanya mempercepat penetrasi pasar, tetapi juga memastikan transfer teknologi dan pemberdayaan tenaga kerja lokal.

Posisi operasional seperti pengelolaan SPBU dan pabrik akan diisi oleh masyarakat setempat, sementara tenaga ahli dari Indonesia hanya mengisi peran teknis tertentu.

Tak berhenti di Timor Leste, Bobibos juga membuka peluang ekspansi ke negara lain seperti Vietnam, Malaysia, hingga Norwegia.

Bahkan, skema serupa disebut bisa diterapkan di berbagai daerah di Indonesia, dengan catatan adanya dukungan regulasi dari pemerintah pusat.

Di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik, Bobibos juga menyampaikan klaim ambisius terkait potensi energi nasional.

Dalam pernyataannya, mereka menilai Indonesia berpeluang menjadi negara eksportir energi jika pengelolaan lahan sawah untuk bahan baku jerami dilakukan secara optimal.

Dengan asumsi pengelolaan 5 juta hektare sawah, Bobibos mengklaim mampu memproduksi hingga 20 miliar liter bahan bakar per tahun.

Angka ini setara dengan lebih dari 125 juta barel minyak, yang dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan impor energi.

Saat ini, kebutuhan BBM Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru sekitar 580 ribu barel.

Artinya, lebih dari satu juta barel masih harus dipenuhi dari impor. Jika skenario Bobibos terealisasi, ketergantungan tersebut dapat ditekan drastis.

Bahkan, Indonesia berpotensi beralih dari negara importir menjadi eksportir energi berbasis biofuel.

Dengan langkah awal di Timor Leste, Bobibos tidak hanya menguji pasar internasional, tetapi juga membuktikan bahwa inovasi energi berbasis lokal memiliki daya saing global.

Kini pertanyaannya, kapan Indonesia siap menjadi tuan rumah bagi energi dari jeraminya sendiri?***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita