AYOJAKARTA.COM - Lonjakan harga minyak dunia kembali mengguncang stabilitas energi global.
Dampaknya terasa luas, mulai dari Eropa hingga Asia, di mana banyak negara terpaksa menaikkan harga bahan bakar hingga menerapkan kebijakan penghematan energi.
Di tengah situasi ini, inovasi energi lokal bernama Bobibos muncul sebagai kandidat solusi yang menjanjikan.
Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos, merupakan biofuel berbasis limbah jerami.
Berbeda dengan bahan bakar fosil, Bobibos tidak bergantung pada minyak mentah global sehingga relatif kebal terhadap gejolak geopolitik, termasuk ketegangan di Selat Hormuz.
Secara hitungan teknis, potensi Bobibos memang menggiurkan. Jika 10 juta hektare lahan sawah dimanfaatkan, produksi bisa mencapai sekitar 689 ribu barel per hari.
Bahkan, dengan skenario panen tiga kali setahun, angka tersebut diklaim dapat meningkat hingga 1,2 juta barel per hari.
Jumlah tersebut mendekati kebutuhan BBM nasional Indonesia yang saat ini berada di angka 1,6 juta barel per hari.
Sebagai perbandingan, produksi minyak dalam negeri baru mencapai sekitar 580 ribu barel per hari.
Artinya, Indonesia masih mengandalkan impor lebih dari 1 juta barel setiap hari.
Jika Bobibos benar-benar terealisasi sesuai proyeksi, ketergantungan impor bisa ditekan drastis.
Dalam simulasi lain, pemanfaatan 5 juta hektare sawah disebut mampu menghasilkan hingga 20 miliar liter bahan bakar per tahun.
Angka ini setara sekitar 125 juta barel per tahun, sebuah kontribusi signifikan terhadap bauran energi nasional.
Dukungan terhadap Bobibos juga datang dari Mulyadi, anggota DPR RI yang menyebut teknologi ini sebenarnya sudah siap secara teknis.
Namun, ia menegaskan bahwa pengembangan skala besar masih terkendala regulasi.
Saat ini, jerami belum masuk dalam peta jalan bioenergi nasional yang lebih fokus pada komoditas seperti sawit dan tebu.
Menariknya, ketika regulasi dalam negeri belum mendukung, Bobibos justru mendapat perhatian dari luar negeri.
Setelah dikembangkan di Timor Leste, inovasi ini juga mulai dilirik oleh Norwegia sebagai alternatif energi ramah lingkungan.
Selain potensi produksi besar, Bobibos diklaim memiliki kualitas tinggi dengan angka oktan mencapai RON 98 serta emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan BBM konvensional. Hal ini menjadikannya relevan dalam transisi menuju energi bersih.***

Share this article
Lonjakan harga minyak picu krisis energi. Bobibos, biofuel jerami lokal, jadi solusi dengan potensi 1,2 juta barel/hari. Meski RON 98 & dilirik Norwegia, pengembangannya terhambat regulasi nasional.