AYOJAKARTA.COM - Terobosan energi lokal kembali mencuri perhatian. Inovasi bahan bakar berbasis jerami, Bobibos, resmi dibahas dalam forum strategis bersama Dewan Energi Nasional (DEN).
Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam mendorong pengakuan dan regulasi bagi energi alternatif karya anak bangsa tersebut.
Rombongan Bobibos dipimpin oleh Mulyadi dan diterima langsung oleh jajaran pimpinan DEN, termasuk Satya Widya Yudha.
Turut hadir sejumlah pakar energi nasional seperti Saleh Abdurrahman, Unggul Priyanto, hingga Surono.
Dalam rapat tersebut, Bobibos memaparkan secara rinci proses konversi limbah jerami menjadi bahan bakar bensin dan solar.
Teknologi ini diklaim mampu menghasilkan bahan bakar beroktan tinggi (RON 98) dengan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil konvensional.
Tak hanya itu, Bobibos juga menjelaskan efisiensi biaya produksi yang menjadi salah satu keunggulan utamanya.
Dengan bahan baku melimpah dari sektor pertanian, harga bahan bakar ini berpotensi lebih terjangkau bagi masyarakat.
Namun, satu hal krusial yang menjadi sorotan utama dalam diskusi adalah kebutuhan regulasi.
Bobibos menegaskan bahwa kesiapan teknologi sudah tidak menjadi kendala, tetapi payung hukum masih menjadi hambatan utama agar produk ini bisa beredar luas di Indonesia.
Pihak DEN sendiri menyambut positif inovasi tersebut. Pemerintah, melalui DEN, menargetkan peningkatan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT), termasuk bahan bakar nabati.
Hasil diskusi disebut produktif dan akan ditindaklanjuti dalam kajian kebijakan lebih lanjut.
Menariknya, di tengah belum adanya regulasi dalam negeri, Bobibos justru telah menyiapkan produksi massal di Timor Leste.
Langkah ini menunjukkan bahwa inovasi energi Indonesia memiliki daya saing global, bahkan mulai dilirik negara lain seperti Norwegia.
"Di depan para pakar energi, BOBIBOS menjelaskan detil proses jerami menjadi bahan bakar bensin dan solar. Bahkan, BOBIBOS mengundang DEN jika ingin melihat langsung teknologi kami ke Timor Leste," tulis akun Instagram Bobibos dalam postingan yang diunggah pada 1 April 2026.
Secara potensi, Bobibos bukan sekadar wacana. Jika dimanfaatkan dari 10 juta hektare lahan sawah, produksinya bisa mencapai hingga 1,2 juta barel per hari, mendekati kebutuhan BBM nasional yang berada di kisaran 1,6 juta barel per hari.
Angka ini membuka peluang besar untuk mengurangi ketergantungan impor minyak yang selama ini membebani devisa negara.
Dengan lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik global, kehadiran Bobibos menjadi semakin relevan.
Energi berbasis sumber daya lokal seperti jerami dinilai lebih tahan terhadap gejolak eksternal.
Kini, bola ada di tangan pemerintah. Jika regulasi segera disiapkan, bukan tidak mungkin Bobibos akan menjadi salah satu pilar utama ketahanan energi nasional di masa depan.***
Share this article
Bobibos, inovasi BBM jerami (RON 98), dibahas bersama DEN untuk dorong regulasi. Meski siap produksi massal, hambatan hukum bikin produk ini melirik pasar luar negeri. Potensinya pangkas impor BBM RI.