AYOJAKARTA.COM - Kasus ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (7/11/2025), kini memasuki tahap pendalaman serius oleh aparat kepolisian.
Meskipun sempat muncul dugaan adanya hubungan dengan teror bom di tiga sekolah internasional di Tangerang Selatan dan Jakarta Utara, polisi menegaskan belum ditemukan bukti keterkaitan antara kedua kasus tersebut.
Tiga sekolah internasional yang sempat mendapat ancaman bom adalah Jakarta Nanyang School di Pagedangan, Mentari Intercultural School di Bintaro, dan North Jakarta Intercultural School (NJIS) di Kelapa Gading.
Ketiganya menerima pesan ancaman melalui WhatsApp dengan kode nomor luar negeri, +234, yang diketahui berasal dari Nigeria.
Isi pesan serupa yaitu mengaku memasang bom di sekolah dan meminta tebusan USD 30.000 dalam bentuk kripto. Pihak kepolisian menduga pengirim ancaman bom tersebut merupakan orang yang sama, dan kini tengah berada di luar negeri.
Sementara itu, penyelidikan kasus ledakan di SMAN 72 terus dilakukan. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengonfirmasi bahwa terduga pelaku adalah siswa sekolah tersebut dan kini masih dirawat intensif.
Polisi juga menelusuri latar belakang keluarga, kondisi psikologis, serta kemungkinan paparan konten ekstrem di media sosial. Ketua KPAI Margaret Aliyatul Maimunah menyoroti pentingnya pengawasan digital bagi remaja.
Ia pun meminta Komdigi memperketat pengawasan terhadap konten provokatif yang bisa memicu kekerasan. Tragedi di SMAN 72 menjadi peringatan keras akan bahaya kombinasi bullying dan paparan konten berisiko.
Pemerhati pendidikan menilai, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk memperkuat pengawasan serta mendampingi siswa agar tidak terjerumus ke perilaku ekstrem.
Kasus ini sekaligus menegaskan pentingnya literasi digital dan empati sosial di kalangan pelajar agar lingkungan sekolah tetap aman dari ancaman kekerasan dan teror.***