AYOJAKARTA.COM - Kasus ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat, 7 November 2025 siang, masih menjadi perhatian publik.
Polisi memastikan terduga pelaku adalah salah satu siswa sekolah tersebut yang kini sedang menjalani perawatan. Meski kondisinya membaik, penyidik masih mendalami motif dan kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Margaret Aliyatul Maimunah, menyebut bahwa aksi nekat siswa tersebut diduga dipengaruhi oleh konten negatif di media sosial.
Menurut Margaret, pengawasan terhadap anak tidak cukup dilakukan di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital. Margaret meminta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memperketat pengawasan terhadap konten yang bersifat provokatif atau berbahaya bagi anak.
Ia juga mengimbau para orang tua agar lebih aktif memantau aktivitas daring anak, karena dunia maya kini menjadi ruang sosial yang sangat berpengaruh terhadap perilaku remaja.
Selain itu, KPAI menekankan pentingnya pemulihan psikologis bagi seluruh siswa, baik korban langsung maupun saksi di lokasi kejadian.
Sebelumnya, muncul dugaan bahwa siswa terduga pelaku merupakan korban bullying di sekolah. Seorang pelajar mengaku pernah mendengar bahwa pelaku sering dirundung dan bersikap tertutup.
Baca Juga: Belajar Mandarin Sejak Kecil, Investasi Cerdas untuk Generasi Global
Meski belum ada bukti kuat, para ahli menilai perundungan bisa menjadi pintu masuk bagi perilaku ekstrem. Dalam bukunya Bullying in Schools, Peter K. Smith menjelaskan bahwa korban perundungan sering mengalami trauma, kemarahan, dan rasa keterasingan sosial.
Jika tidak mendapat dukungan, mereka mudah terpengaruh oleh ide atau konten negatif yang menjanjikan pengakuan diri. Tragedi di SMAN 72 Kelapa Gading menjadi peringatan penting tentang bahaya ganda, yakni bullying dan paparan konten berisiko di media sosial.
Pencegahan harus dilakukan melalui kolaborasi antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan masyarakat. Dengan pengawasan yang lebih ketat dan pendekatan psikologis yang tepat, potensi kekerasan di kalangan pelajar dapat ditekan sejak dini.***
Share this article
KPAI duga siswa pelaku ledakan SMAN 72 terpengaruh konten negatif di medsos. Kasus ini soroti pentingnya pengawasan digital dan dampak bullying yang bisa picu tindakan ekstrem remaja.