Metropolitan

Awasi Kualitas Udara Ibu Kota, DKI Jakarta Punya 111 SPKU Aktif

Oleh: Jinan Vania Barizky Sabtu 18 Okt 2025, 11:45 WIB
Ilustrasi. Kualitas Udara di Jakarta (Sumber: Generative AI)

AYOJAKARTA.COM - Kualitas udara Ibu kota DKI Jakarta sering menjadi salah satu sorotan.

Terlebih di awal Oktober 2025 lalu, bahkan sempat menduduki perangkat kelima dengan kualitas udara terburuk berdasarkan data IQAir pada Senin, 13 Oktober 2025 lalu.

Untuk memantau kualitas udara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diketahui memiliki 111 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang aktif di seluruh wilayah ibu kota.

Baca Juga: Pemprov DKI Siap Berantas Mafia Sewa Kios Pasar, Sentra Fauna dan Kuliner Lenteng Agung Jadi Solusi?

Sebagai informasi sistem pemantauian ini merupakan kombinasi antara stasiun referensi dan sensor berbiaya rendah (Low-Cost Sensor atau LCS) yang dipasang di berbagai titik strategis.

Asep Kuswanto selakua Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyebutkan bahwa dengan sistem ini kondisi udara bisa diketahui secara real time.

“Melalui sistem yang terintegrasi ini, kami dapat memantau kondisi udara secara real time dan melakukan langkah mitigasi lebih cepat untuk melindungi kesehatan warga,” pungkasnya.

Bagi kamu masyarakat yang ingin mengetahui informasi dari data kualitas udara terkini bisa memantau melalui situs udara.jakarta.go.id.

Baca Juga: Mahfud MD Dukung Prabowo Bongkar Kasus Pagar Laut: Negara Jangan Dikuasai Preman!

Pantauan kondisi udara ini akan menampilkan data sesuai dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).

Selain untuk melihat kondisi udara secara real time masyarakat bisa melihat peta sebaran sensor, mengetahui wilayah dengan ISPU terbaik maupun terburuk, serta memperoleh rekomendasi aktivitas bagi kelompok umum maupun sensitif.

Kualitas udara yang buruk tidak hanya bisa mengganggu Kesehatan, namun dapat mempengaruhi produktivitas seseorang bahkan ekonomi.

Oleh karena hal tersebut, pantauan dari kualitas udara ini bisa menjadi salah satu alasan kebijakan hadir dari pemerintah.

Reporter Jinan Vania Barizky
Editor Jinan Vania Barizky