AYOJAKARTA.COM - Cuaca panas ekstrem yang saat ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia termasuk ibu kota DKI Jakarta membuat masyarakat merasakan suhu udara yang sangat panas terlebih ketika siang hari.
Walaupun begitu, keadaan suhu panas saat ini masih wajar terjadi karena Indonesia merupakan negara subtropis.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat menyebutkan alasan dari suhu udara yang saat ini meningkat di berbagai wilayah.
Baca Juga: Belum Final, Pansus Raperda KTR Terima Aspirasi Rakyat, Hiburan Malam Tidak termasuk?
Hal ini disebabkan karena posisi matahari yang bergeser ke selatan selain itu peralihan musim pancaroba.
Musim kemarau Indonesia menuju musim hujan.
Diprediksi kondisi ini akan terasa hingga awal November 2025.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji ikut buka suara atas kondisi suhu saat ini.
“Selain itu, kondisi atmosfer yang cenderung cerah berawan turut membuat radiasi matahari langsung terasa di permukaan,” pungkasnya dikutip ayojakarta.com pada Jumat, 17 Oktober 2025.
BPBD DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas fisik berat pada pukul 10.00-16.00 WIB.
“Gunakan pelindung diri seperti topi, payung, atau pakaian yang menutup tubuh saat berada di luar ruangan. Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk meningkatkan asupan air putih guna mencegah dehidrasi serta tidak membakar sampah sembarangan,” tandasnya.
Selain itu, untuk menghadapi cuaca panas ekstrem Pemprov DKI Jakarta diketahui memberikan beberapa upaya strategis yakni:
1. Modifikasi cuaca.
BPBD DKI Jakarta memperluas operasi modifikasi cuaca (OMC) bekerja sama dengan BMKG untuk mengatur distribusi curah hujan dan memantau potensi cuaca ekstrem.
2. Kesiapsiagaan layanan kesehatan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dalam menangani kasus dehidrasi, heatstroke, dan ISPA, serta menggelar edukasi publik agar warga menjaga asupan cairan dan membatasi aktivitas luar ruangan pada pukul 10.00–14.00 WIB. Petugas kesehatan juga melakukan pemantauan dan distribusi air minum bagi kelompok rentan.
3. Penghijauan dan lingkungan.
Dinas Pertamanan dan Hutan Kota bersama Dinas Lingkungan Hidup mempercepat penanaman pohon dan penyemprotan water mist pada jam-jam puncak panas untuk menurunkan suhu mikro dan menambah kadar oksigen. Pemantauan pohon rawan tumbang akibat angin kencang juga diperketat.
Baca Juga: Pedagang Pasar Barito yang Pindah ke Sentra Fauna Lenteng Agung akan Dapat Keuntungan, Apa Saja?
4. Edukasi di sekolah.
Dinas Pendidikan memastikan setiap sekolah menerapkan SOP darurat suhu panas, termasuk pengaturan aktivitas luar ruangan bagi peserta didik.
5. Pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui kolaborasi dengan komunitas lingkungan dan transportasi untuk menyosialisasikan perilaku adaptif, seperti penggunaan masker, pengurangan emisi kendaraan, dan pemanfaatan ruang hijau publik yang teduh bagi pejalan kaki serta pesepeda.***

Share this article
Cuaca panas ekstrem yang saat ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia termasuk ibu kota DKI Jakarta membuat masyarakat merasakan suhu udara yang sangat panas terlebih ketika siang hari.