AYOJAKARTA.COM - Kualitas udara di Jakarta saat ini menurun karena tercemar kandungan mikroplastik.
Ternyata plastik bukan hanya menjadi masalah di laut, tetapi juga di udara yang kita hirup setiap hari.
Dari proses produksi hingga menjadi sampah, plastik ternyata bisa melepas gas rumah kaca dan mikroplastik ke atmosfer.
Hal ini mengakibatkan kualitas udara menurun dan krisis iklim makin parah.
Terlebih, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menemukan kandungan mikroplastik di air hujan di Jakarta.
Produksi plastik bisa menimbulkan adanya gas rumah kaca yang ikut terlepas ke udara.
Plastik dibuat dari minyak bumi dan gas alam yang proses pembuatan menghasilkan CO2, CH4, dan N2O.
Dikutip dari akun Instagram @dinaslhdki, pada tahun 2023, Lawrence Berkeley Lab mencatat jika produksi plastik di dunia pada 2019 lalu menyumbang 2,24 miliar tol CO2 yang setara dengan 5,3 persen emisi global.
Baca Juga: Kemenag dan KemenPPPA Sinergi Cegah Kekerasan di Lingkungan Pesantren
Di Jakarta sendiri, RDF Plant Bantargebang telah membantu menekan emisi dari pembakaran terbuka dan sampah plastik dengan mengubahnya menjadi bahan bakar alternatif.
Munculnya mikroplastik hingga bisa tersebar ke udara adalah dari sampah pembakaran, polutan terlepas ke udara.
Butiran debu dari plastik itu atau yang disebut partikel berukuran kurang dari 5 milimeter itulah yang membuat udara tercemar.
Bahkan, jika kita hirup bisa menimbulkan dampak pada kesehatan yakni masuk ke paru-paru yang bisa mengganggu pernafasan, iritasi kulit dan mata, bahkan penyakit kronis.
Baca Juga: Wacana Tarif Transjakarta Naik Rp5 Ribu, Gubernur Pramono Bilang Begini
Selain itu partikel tersebut bisa menempel di awan dan akan turun lagi melalui air hujan.
Terkait hal ini Dinas LH DKI Jakarta pun telah melakukan berbagai upaya agar kualitas udara di Jakarta kembali membaik, apa saja yang dilakukan?
Berikut delapan upaya yang dilakukan DLH DKI Jakarta untuk menekan polusi plastik di udara:
- Pengawasan emisi pabrik plastik dan petrokimia.
- Peningkatan fasilitas daur ulang Bank Sampah, TPS 3R hingga RDF Plant.
- Kebijakan Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik Sekali Pakai (Pergub 142 tahun 2019).
- Kolaborasi riset mikroplastik di udara bersama BRIN (2022).
- Pengawasan dan penataan hukum pembakaran sampah terbuka.
- Sosialisasi 3R sampah dari rumah.
- Kampanye Gerakan Guna Ulang Spunbond (dropbox di pasar untuk menekan penggunaan plastik sekali pakai)- 2024.
- Event Ekonomi Sirkular berfokus pada isu sampah.
Langkah-langkah ini dilakukan sejalan dengan visi Jakarta Rendah Emisi 2050.
Apa yang bisa kita lakukan?
Untuk turut membantu mengurangi polusi plastik di udara, kita sebagai warga Jakarta bisa melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
Baca Juga: Ada Event Jakarta Running Festival 2025, Hari Bebas Kendaraan Bermotor Hari Ini Ditiadakan!
- Kurangi sumbernya
Batasi plastik sekali pakai dan pilih kemasan isi ulang
- Cegah polusinya
Jangan membakar sampah plastik sembarangan. Laporkan penumpukan atau pembakaran terbuka melalui aplikasi JAKI
- Gabung solusinya
Memanfaatkan Bank Sampah, TPS 3R, atau gerakan guna ulang spunbond di pasar
- Dukung datanya
Ikut serta dalam kegiatan pemantauan lingkungan atau edukasi warga.***