AYOJAKARTA.COM - Fenomena mikroplastik yang mencemari udara hingga air hujan di Jakarta menimbulkan kekhawatiran baru bagi kesehatan publik.
Kajian terbaru Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SEIJ) pada Mei–Juli 2025 menemukan bahwa Jakarta Pusat menjadi kota dengan kontaminasi mikroplastik tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 37 partikel per 9 cm area pemantauan.
Menurut Kepala Laboratorium ECOTON, Rafika Aprilianti, paparan mikroplastik di Jakarta berasal dari kombinasi aktivitas padat di Tanah Abang, emisi kendaraan, hingga pelepasan serat sintetis dari pakaian tekstil.
Baca Juga: Bikin Madura United Bertekuk Lutut, Persija Jakarta Makin Dekat dengan Gelar Juara Super League
Profesor riset BRIN Muhammad Reza Cordova menambahkan, kadar mikroplastik di air hujan Muara Angke meningkat lima kali lipat antara 2015–2022.
Ia khawatir partikel berukuran di bawah 50 mikron dapat masuk ke aliran darah manusia dan menimbulkan risiko iritasi, peradangan, hingga gangguan jantung dan pembuluh darah.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta pun memperingatkan bahaya mikroplastik bagi masyarakat, terutama bagi pasien diabetes yang berisiko lebih tinggi mengalami stroke akibat peradangan pembuluh darah.
Kepala Dinkes, Rahmat, menjelaskan bahwa mikroplastik berukuran lebih kecil dari debu dapat menimbulkan luka mikro di organ tubuh dan memperburuk kondisi kesehatan kronis.
Meski hubungan langsung antara mikroplastik dan kanker belum sepenuhnya terbukti, sejumlah studi internasional seperti yang dilakukan Stanford Medicine menunjukkan adanya indikasi kuat bahwa partikel mikroplastik bisa memicu perubahan genetik dan peradangan sel yang berujung pada kanker atau penyakit degeneratif lainnya.
Untuk mencegah paparan lebih lanjut, Dinas Lingkungan Hidup DKI meminta industri di Jakarta menambah alat penyaring polutan (scrubber) dan sistem pemantauan kualitas udara otomatis. Langkah ini diharapkan mampu menekan emisi partikel plastik di udara.
Para ahli sepakat, pengurangan plastik sekali pakai dan pembakaran sampah terbuka menjadi kunci utama mengurangi risiko mikroplastik di udara.
Meski sulit dihindari sepenuhnya, kebiasaan kecil seperti menggunakan wadah kaca, pakaian berbahan alami, dan menghindari pemanasan makanan dalam wadah plastik bisa membantu menekan paparan mikroplastik dalam tubuh.
Kesimpulannya, mikroplastik dalam hujan Jakarta memang nyata dan berpotensi mengganggu kesehatan. Meski riset masih berlangsung, langkah pencegahan perlu segera dilakukan sebelum partikel kecil ini membawa dampak besar bagi generasi mendatang.***

Share this article
Mikroplastik tercemar di hujan Jakarta, berisiko ganggu kesehatan seperti iritasi dan stroke. BRIN dan ECOTON temukan kadar tinggi, DKI diminta tambah filter polutan dan kurangi plastik sekali pakai.