Metropolitan

Apa Arti Deflasi 0,23 Persen yang Dialami Jakarta pada Januari 2026?

Oleh: Katarina Erlita Senin 02 Feb 2026, 16:19 WIB
Kota Jakarta (Sumber: Unspalsh/Eko Herwantoro)

AYOJAKARTA.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat Jakarta mengalami deflasi sebesar 0,23 persen pada Januari 2026 secara bulanan (month to month) dibandingkan Desember 2025.

Deflasi ini terutama dipicu oleh turunnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok transportasi.

Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat penurunan indeks harga terdalam, yakni sebesar 1,57 persen.

Sementara itu, kelompok transportasi turut mengalami deflasi sebesar 0,69 persen.

“Deflasi Januari 2026 didominasi penurunan harga pangan dan transportasi,” ujarnya dalam Rilis Berita Resmi Statistik, Senin (2/2/2026).

Secara historis, deflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,57 persen ini merupakan yang terdalam dalam empat tahun terakhir.

Kelompok tersebut menjadi penyumbang utama deflasi dengan andil mencapai 0,31 persen terhadap deflasi umum DKI Jakarta.

Adapun kelompok transportasi memberikan andil deflasi sebesar 0,09 persen.

Salah satu komoditas yang paling berpengaruh adalah cabai merah. Penurunan harga cabai merah menjadi penyumbang deflasi terbesar secara individual dengan andil 0,09 persen.

Rata-rata harga cabai merah pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp50.501 per kilogram, turun signifikan hingga mendorong deflasi komoditas ini sebesar 29,50 persen.

Selain cabai merah, sejumlah komoditas pangan lain juga turut menekan inflasi Jakarta.

Daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 5,89 persen dengan andil 0,07 persen.

Komoditas lain yang berkontribusi terhadap deflasi antara lain bawang merah (andil 0,06 persen), cabai rawit (0,04 persen), serta bensin dengan andil deflasi 0,05 persen.

Lantas, apa arti deflasi 0,23 persen ini bagi masyarakat Jakarta? Dalam jangka pendek, deflasi mencerminkan turunnya harga barang kebutuhan pokok dan transportasi, sehingga daya beli masyarakat relatif lebih terjaga.

Penurunan harga pangan juga memberikan ruang bagi rumah tangga untuk menghemat pengeluaran.

Namun, deflasi tetap perlu dicermati. Jika berlangsung terlalu lama, kondisi ini bisa menjadi sinyal melemahnya permintaan atau perlambatan aktivitas ekonomi.

Karena itu, pemerintah dan otoritas terkait akan terus memantau pergerakan harga agar stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Dengan demikian, deflasi Januari 2026 di Jakarta mencerminkan kombinasi faktor musiman, pasokan pangan yang membaik, serta penyesuaian harga transportasi, yang secara umum masih berada dalam batas wajar dan terkendali.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita