AYOJAKARTA.COM--Kubu Ferdy Sambo, terdakwa pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J kini mencoba mengusik sisi kepribadian Brigadir J.
Muncul dalam persidangan Brigadir J dianggap memiliki kepribadian ganda oleh kubu Ferdy Sambo.
Hal ini terungkap ketika pada pekan keempat sidang pembunuhan berencana Yosua, Hakim mengatakan bahwa kuasa hukum Ferdy Sambo menyurati Jaksa, isi suratnya menerangkan Brigadir J memiliki kepribadian ganda.
Sejumlah ART dan ajudan Ferdy Sambo pun seolah membranding Brigadir J sebagai sosok yang buruk dengan menyebut suka dunia malam, dan temperamental.
Kesaksian-kesaksian itu akhirnya membuat spekulasi bahwa kubu Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi memang hendak menyudutkan Brigadir J, seseorang yang sebenarnya menjadi korban dalam kasus pembunuhan berencana ini.'
Hal tersebut menjadi perhatian khusus Ahli Psikologis Forensik Reza Indragiri seperti dilansir Ayojakarta.com pada kanal YouTube Kompas TV.
Baca Juga: Fakta Baru! Irma Hutabarat Bongkar Skenario Ferdy Sambo: Ada Pesan Briefing Begini
“Istilah kepribadian ganda ini istilah yang sangat teknis, ini menunjuk pada sebuah patologi atau abnormalitas yang “ekstrem” yang berat, jadi tidak bisa digunakan secara serampangan,” ujar Reza saat ditanya Ni Luh selaku pembawa acara.
Tuduhan kepribadian ganda harus betul-betul melalui pemeriksaan yang seksama. Dan istilah kepribadian ganda sendiri sebenarnya sudah lama ditinggal, dan digantikan dengan Dissociative Identity Disorder (DID) atau kepribadian disosiative.
Kita bisa mengatakan orang tersebut memiliki kepribadian ganda atau bukan, jika dilakukan pemeriksaan terhadap orang yang bersangkutan.
Namun jika yang bersangkutan sudah tidak ada, bisa dilakukan wawancara melalui orang sekitar.
Yang dilakukan saksi dalam mengungkap kepribadian Brigadir J disebut sebagai victim Profiling.
Namun menurut Reza, uniknya dalam victim profiling dipersidangan Ferdy Sambo ini, yang diungkit hanyalah sisi negatif mendiang Brigadir J.
“Bahkan tidak ada satu saksipun yang menyebut barang satu sifat positif terkait Brigadir Yosua,” ujar Reza.
Reza menambahkan jika profiling yang dilakukan ini penuh dengan bias, menggunakan dasar ilmiah untuk mendiskreditkan sosok Yosua.
Reza mengkhawatirkan jika yang dikatakan sebagai victim profiling ini justru ternyata adalah kriminal profiling.
Dimana dia statusnya sebagai korban pembunuhan berencana, namun dikupas dan dipotret layaknya sebagai pelaku pidana.
Lalu apa saja tes yang dapat mendeteksi kepribadian ganda pada seseorang, berikut penjelasannya :
Tes Fisik
Pemeriksaan potensi cedera fisik pada tubuh pasien seperti cedera kepala, tumor, kurang tidur, hingga keracunan.
Tes Psikologis
Pencocokkan gejala dengan kelainan mental lain berdasarkan panduan manual (DSM-5) yang diterbitkan Asosiasi Psikiater Amerika.
Menurut Reza pada dasarnya setiap orang memiliki dua kepribadian walaupun tidak mengidap abnormalitas tertentu.
Ada sifat yang bersifat tetap dan ada sifat yang bersifat penyesuaian, artinya bisa menyesuaikan terhadap lingkungannya.
Begitu juga pada kasus Brigadir J, walaupun di satu pihak menilai jika Brigadir J sosok yang ramah, dan di pihak lain mengungkapkan jika sikapnya temperamental, tidak bisa langsung disimpulkan jika Brigadir J mengidap kepribadian ganda.***