AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar nabati Bobibos kembali memicu rasa penasaran publik. Di tengah janji harga super murah dan produksi berbasis limbah jerami, pertanyaan besarnya kini mengerucut pada satu hal, apakah Bobibos benar-benar bisa diproduksi secara massal dan bertahan secara ekonomi?
Bobibos atau Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos dikembangkan dari jerami, limbah pertanian yang selama ini dibakar atau dibuang.
Indonesia memiliki lebih dari 11 juta hektare sawah, sehingga jerami dipandang sebagai bahan baku melimpah dan murah. Klaim inilah yang membuat Bobibos disebut-sebut sebagai calon game changer energi nasional.
Melalui akun resminya, Bobibos menegaskan bahwa proyek ini bukan eksperimen dadakan. Riset disebut telah dilakukan bertahun-tahun dengan melibatkan ahli kimia, bioteknologi, dan pangan.
Setelah penandatanganan MoU dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, tim Bobibos mulai membangun fasilitas bio manufaktur di Lembur Pakuan.
Tahap pertama adalah bio manufaktur seluas sekitar 1.000 meter persegi. Puluhan ton jerami akan diproses menjadi cairan hidrokarbon menggunakan 42 toren penampung yang telah diberi perlakuan khusus.
Dari sini, cairan organik akan dibawa ke tahap kedua, yakni truk transformer. “Di sinilah kuncinya,” ungkap Bobibos. Cairan hasil bio manufaktur akan diproses di dalam kontainer truk melalui lima tahapan mesin hingga menjadi bensin dan solar.
Proses kimia detail tidak dipublikasikan karena alasan hak kekayaan intelektual, meski media dan pihak Pemprov Jabar diperbolehkan melihat langsung tanpa merekam.
Namun, di balik optimisme teknis tersebut, tantangan ekonomi menjadi sorotan serius. Pengamat ekonomi Raymond Chin menilai produksi massal biofuel generasi kedua bukan perkara mudah.
“Produksi massal itu butuh biaya gede banget. Bisa ratusan miliar sampai triliunan. Tantangan terbesar Bobibos bukan teknis bisa atau enggaknya, tapi masalah ekonominya,” kata Raymond Chin di chanel YouTube-nya.
Ia mencontohkan banyak proyek serupa di Amerika dan Eropa yang akhirnya tutup meski didukung modal besar. “Biofuel generasi dua terbukti terlalu mahal untuk penggunaan komersial. Klaim harga Rp4.000 per liter itu radikal banget,” ujarnya.
Menurut Raymond, jika Bobibos benar berhasil menekan biaya dan memproduksi secara massal, maka itu berarti memecahkan persoalan yang gagal diselesaikan raksasa global. Di titik inilah publik menunggu pembuktian.
Bobibos menjanjikan proses transparan dan mengundang media saat peluncuran. Jika berhasil, jerami bisa berubah dari limbah menjadi energi rakyat.
Jika tidak, Bobibos berisiko menjadi inovasi besar dengan ekspektasi yang terlalu tinggi. Semua akan ditentukan saat produksi nyata benar-benar berjalan.***