AYOJAKARTA.COM - Proyek pengembangan Bobibos, bahan bakar alternatif berbasis jerami yang digadang-gadang sebagai inovasi energi anak bangsa, kembali menjadi pusat perhatian publik.
Terbaru, calon pabrik Bobibos di Lembur Pakuan, Jawa Barat, terlihat dibangun menggunakan metode sederhana tanpa alat berat
seperti ekskavator atau mesin konstruksi modern. Temuan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai kesiapan fasilitas yang diklaim akan menjadi pusat biomanufaktur skala besar.
Dalam video yang viral di media sosial, pihak Bobibos menjelaskan bahwa mereka telah melakukan survei lokasi pabrik dan pembangunan tengah berlangsung dengan metode manual.
Mereka memastikan bahwa setelah bangunan selesai, seluruh mesin produksi akan dikirim dan dipasang di Lembur Pakuan. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, disebut telah memerintahkan percepatan pembangunan agar manfaatnya segera dirasakan warga.
Namun, pernyataan ini menimbulkan kontroversi karena sebelumnya pendiri Bobibos, M Ikhlas Thamrin, menyebut bahwa seluruh proses produksi akan dilakukan di dalam satu truk Fuso.
Mesin-mesin tersebut diklaim bersifat portabel dan tidak perlu diturunkan dari truk, sehingga semestinya pabrik permanen tidak diperlukan.
Ketidaksinkronan informasi ini memperkuat keraguan publik terhadap konsep produksi Bobibos. Kebingungan meningkat setelah pihak Bobibos mengirim 42 toren jumbo ke Lembur Pakuan.
Sebelumnya disebutkan bahwa jerami akan langsung masuk ke mesin dalam truk, namun kini toren disampaikan sebagai fasilitas fermentasi.
Publik mempertanyakan urgensi pembangunan pabrik seluas 1.000 meter persegi jika teknologi Bobibos benar-benar portabel seperti klaim awal.
Di tengah kontroversi, berbagai pihak ahli energi memberikan respons. Beberapa dari mereka menilai bahwa klaim Bobibos tidak sejalan dengan proses ilmiah produksi bioetanol generasi kedua yang menggunakan limbah pertanian seperti jerami.
Baca Juga: Sebentar Lagi Rilis, Bobibos Dapat Dukungan dari Pabrikan Otomotif Asal Korea Selatan
Teknologi ini dikenal kompleks, memerlukan tahapan panjang, fasilitas lengkap, dan uji laboratorium ketat. Proses fermentasi tidak mungkin berlangsung hanya dengan satu mesin di dalam truk.
Pengusaha yang lama berkecimpung dalam produksi bahan bakar dari limbah plastik, turut menyampaikan kritik. Ia menyoroti minimnya transparansi Bobibos, termasuk tidak adanya publikasi hasil uji laboratorium yang sahih, meskipun mereka mengklaim angka oktan tinggi setara Pertamax Turbo.
Pihak Bobibos tetap optimistis dan menegaskan bahwa pembangunan pabrik dilakukan sesuai standar teknis. Mereka juga menyampaikan rencana pengiriman mesin utama pekan ini, meski timeline tersebut kembali menimbulkan pertanyaan karena tidak konsisten dengan pernyataan sebelumnya.
Di tengah keraguan publik, harapan tetap terbuka jika Bobibos mampu membuktikan manfaat, keamanan, dan efisiensi produk mereka.
Masyarakat menunggu langkah konkret berikutnya, sekaligus berharap inovasi ini tidak berakhir seperti proyek-proyek serupa yang hilang tanpa tindak lanjut.***
Share this article
Pembangunan pabrik Bobibos di Lembur Pakuan pakai metode sederhana menuai kritik. Klaim teknologi tak konsisten, toren dan mesin dipertanyakan, publik tunggu pembuktian nyata.