AYOJAKARTA.COM - Bobibos kembali mencuri perhatian publik setelah melakukan pertemuan penting dengan Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Arif Satria.
Pertemuan tersebut berlangsung di kantor BRIN, Jakarta, dan menjadi sinyal kuat bahwa proyek bahan bakar nabati berbasis jerami ini mulai masuk ke tahap yang lebih serius dan strategis.
Dalam pernyataannya yang diunggah melalui video singkat di YouTube pada Sabtu, 24 Januari 2026, pihak pengelola Bobibos menyebutkan bahwa diskusi bersama Ketua MPR dan BRIN membahas berbagai agenda penting, khususnya terkait transisi energi baru terbarukan di Indonesia.
“Banyak hal yang kami diskusikan, salah satunya program transisi energi baru terbarukan. Ketua MPR sangat ingin BRIN menjadi lembaga yang memunculkan inovasi baru untuk membantu ketahanan energi Indonesia,” ungkap pihak Bobibos.
BRIN pun menyatakan dukungan penuh terhadap inovasi anak bangsa. Bahkan, lembaga riset negara tersebut membuka peluang pemanfaatan fasilitas laboratorium BRIN untuk membantu pengembangan teknologi Bobibos.
Langkah ini dinilai krusial, mengingat validasi ilmiah dan pengujian laboratorium menjadi kunci untuk menjawab keraguan publik terhadap klaim teknologi bahan bakar nabati tersebut.
Di saat yang sama, Bobibos juga menunjukkan progres nyata produksi bahan bakar nabati di Timor Leste.
Setelah sempat minim kabar di awal 2026, Bobibos memamerkan tahapan awal pengolahan jerami sisa panen padi yang kini mulai dikonversi menjadi cairan organik sebagai bahan baku energi alternatif.
Melalui unggahan di Instagram, terlihat tim Bobibos di Timor Leste melakukan pengecekan dan pengujian mesin pabrik, sekaligus mempersiapkan jerami dalam jumlah besar.
Limbah pertanian yang selama ini hanya dibakar atau dibuang, kini dicacah, diproses, dan dibubukkan.
“Beginilah proses awal pembuatan biogasoline dan biosolar Bobibos dari jerami yang dipowderkan,” tulis akun resmi @bobibos_.
Jerami dipilih karena ketersediaannya melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Pemerintah Timor Leste sendiri telah mengalokasikan sekitar 25 ribu hektare lahan jerami serta menyiapkan regulasi khusus guna mendukung kelancaran produksi.
Cairan organik hasil pengolahan awal ini nantinya akan diproses lebih lanjut menggunakan mesin lanjutan yang disiapkan di Indonesia.
Bobibos mengklaim hasil akhirnya setara RON 98, rendah emisi, dan ramah lingkungan.
Pertemuan dengan MPR dan BRIN, ditambah progres produksi di Timor Leste, menjadi bukti bahwa Bobibos berupaya menjawab kritik dengan kerja nyata.
Publik kini menanti tahap paling krusial yaitu peluncuran resmi dan distribusi bahan bakar nabati Bobibos pada Februari 2026.***