AYOJAKARTA.COM - Bahan bakar nabati Bobibos kembali mencuri perhatian publik di awal tahun 2026.
Setelah sempat digadang sebagai inovasi energi alternatif berbasis jerami, geliat proyek ini justru perlahan meredup.
Publik kini bertanya-tanya, apakah ini hanya jeda strategi atau pertanda proyek mulai menghadapi friksi teknis dan komersial?
Pada akhir 2025, Bobibos mengumumkan dua langkah besar yang dianggap sebagai momentum industrialisasi.
Pertama, kerja sama pembangunan pabrik di Lembur Pakuan, Jawa Barat bersama Gubernur Dedi Mulyadi.
Kedua, penandatanganan MoU dengan Timor Leste untuk produksi dan distribusi bahan bakar jerami di negara tersebut.
Dalam kerja sama lintas negara itu, Timor Leste bahkan disebut menyiapkan alokasi 25 ribu hektare jerami serta regulasi khusus untuk mempercepat operasional.
Pabrik di Dili pun sempat ditampilkan melalui unggahan Instagram @bobibos_. Target peluncuran dicanangkan pada Februari 2026, menimbulkan optimisme bahwa proyek akan segera masuk fase produksi massal.
Namun memasuki 2026, perkembangan dua proyek besar tersebut tidak lagi terdengar.
Akun resmi Bobibos nyaris senyap, tanpa kabar terbaru soal pabrik, sertifikasi, maupun update teknis.
Pihak pemerintah daerah hanya menyebut proses pembangunan masih berjalan, tetapi belum ada parameter resmi tentang tahapan produksi.
Situasi ini memantik dugaan publik. Sebagian mempertanyakan konsistensi, sebagian lagi menunggu bukti fisik setelah narasi besar yang digaungkan pada tahun sebelumnya.
Jauh sebelum “menghilang”, dua figur ekonomi digital yakni Raymond Chin dan Bennix telah memberi peringatan bahwa publik perlu bersikap kritis.
Raymond menyebut kasus Bobibos mirip proyek mobil Esemka dengan hype besar, sentimen nasionalisme menguat, tetapi implementasi teknis tidak sinkron.
Menurutnya, klaim RON 98, emisi rendah, harga Rp4.000/liter hingga efisiensi tinggi terlalu “extraordinary” untuk dicerna tanpa data ilmiah dan transparansi uji.
“Semakin luar biasa klaimnya, harus semakin luar biasa buktinya,” ujar Raymond Chin di chanel YouTube-nya.
Sementara itu, Bennix mengomentari fenomena ini secara satir. Ia mempertanyakan kejelasan bahan baku, pabrik, hingga sertifikasi.
“Kalau benar bisa bikin Fortuner tembus 14 km/liter, harusnya udah dapat Nobel,” sindir Bennix di chanel YouTube-nya.
Secara teoritis, biofuel generasi kedua memang menjanjikan ramah lingkungan, murah, dan berbasis limbah.
Namun secara global, teknologi ini masih bergulat dengan biaya produksi yang tinggi.
Publik kini berada di persimpangan antara optimisme terhadap inovasi lokal versus skeptisisme berbasis bukti.
Apakah Bobibos hanya gagal komunikasi atau tengah menyiapkan gebrakan? Jawabannya bergantung pada dua hal, yaitu transparansi dan realisasi teknis.***

Share this article
Bobibos menghilang awal 2026 usai umumkan pabrik dan kerja sama Timor Leste. Prediksi Raymond Chin dan Bennix soal hype tanpa bukti mulai terbaca. Publik kini menunggu realisasi, bukan sekadar janji.