Nasional

Bobibos Siap Launching di Timor Leste, Klaim Harga Murah Picu Perdebatan

Oleh: Katarina Erlita Kamis 12 Mar 2026, 14:05 WIB
Bobibos, Bahan Bakar Ramah Lingkungan dari Jerami. (Sumber: Instagram.com/@bobibos_)

AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar alternatif karya anak bangsa kembali menjadi perbincangan publik.

Pengembang Bobibos mengumumkan bahwa Bobibos Mobile Unit (BMU) telah selesai diproduksi dan siap diberangkatkan menuju Timor Leste pada Maret 2026.

BMU merupakan unit produksi bergerak yang dirancang untuk mengolah cairan organik hasil fermentasi dari pabrik biomanufaktur menjadi bahan bakar hidrokarbon sintetis.

Teknologi ini diklaim mampu menghasilkan bensin maupun solar berbasis biomassa yang ramah lingkungan.

Founder Bobibos, Muhammad Ikhlas Thamrin, memperlihatkan langsung penampakan kendaraan produksi tersebut dalam sebuah video yang diunggah melalui media sosial.

Ia menjelaskan bahwa mesin yang terpasang di dalam unit tersebut mampu memproduksi bahan bakar dengan kapasitas sekitar 300 liter dalam waktu enam jam.

“Di dalam mobil inilah nanti di Timor Leste kita akan memproduksi Bobibos untuk bensin maupun solar,” ujar Ikhlas.

Ia juga menegaskan bahwa bahan bakar yang dikembangkan timnya bukanlah bioetanol, melainkan hidrokarbon sintetis yang memiliki karakteristik mirip dengan bensin dan diesel konvensional.

Dengan demikian, bahan bakar ini diklaim dapat digunakan langsung pada kendaraan tanpa perlu modifikasi mesin.

Menariknya, unit produksi bergerak tersebut awalnya dirancang untuk proyek kerja sama di Indonesia bersama Dedi Mulyadi.

Namun karena sejumlah kendala, proyek tersebut akhirnya dialihkan ke Timor Leste.

Dalam unggahan yang sama, tim Bobibos bahkan menyatakan siap kembali mengembangkan proyek tersebut di Indonesia jika diminta oleh Prabowo Subianto.

“Kami sebagai anak bangsa siap kembali ke Indonesia jika Presiden memanggil kami pulang,” tulis tim Bobibos.

Klaim Harga Murah Dipertanyakan

Selain teknologi yang digunakan, hal lain yang menarik perhatian publik adalah estimasi harga bahan bakar Bobibos.

Pengembang menyebut harga jualnya berpotensi berada di kisaran Rp4.000 hingga Rp10.000 per liter apabila sudah diproduksi secara massal.

Harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan bahan bakar beroktan tinggi yang saat ini beredar di pasar.

Bahkan Bobibos diklaim memiliki kualitas setara RON 98,1 dengan emisi yang jauh lebih rendah karena berasal dari limbah jerami.

Namun, klaim harga murah tersebut memicu perdebatan di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan kelayakan ekonominya jika melihat investasi awal dan kapasitas produksi yang masih terbatas.

Salah satu pengguna Instagram bahkan menilai perhitungan bisnis tersebut tidak realistis.

Dalam komentarnya, ia memperkirakan investasi kendaraan dan mesin produksi bisa mencapai lebih dari Rp1 miliar, sementara produksi harian yang hanya ratusan liter dianggap sulit menutup biaya operasional.

"Biaya investasi, gaji, fixed cost, variabel cost, biaya perijinan dll. Tidak masuk akal hitungannya Ini bisnis atau sedekah? Logika skala industri semakin tidak masuk akal," tulis salah satu warganet dengan akun @chris_longdong.

Meski begitu, hingga kini Bobibos masih berada dalam tahap pengembangan dan belum memiliki izin edar komersial. Harga resmi produk tersebut juga belum diumumkan secara pasti.

Dengan kondisi geopolitik global yang semakin tidak stabil dan harga energi yang fluktuatif, inovasi energi alternatif seperti Bobibos tetap menjadi topik menarik yang berpotensi membuka peluang baru dalam pengembangan energi terbarukan di kawasan Asia Tenggara.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita