AYOJAKARTA.COM - Di tengah meningkatnya kekhawatiran soal ketahanan energi global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, inovasi bahan bakar alternatif karya anak bangsa kembali menjadi sorotan.
Salah satu yang paling banyak diperbincangkan adalah Bobibos, bahan bakar yang dikembangkan dari limbah pertanian berupa jerami.
Isu ini mencuat setelah tim Bobibos mengunggah pernyataan di media sosial yang menegaskan keseriusan mereka mengembangkan energi alternatif.
Dalam unggahan Instagram pada 10 Maret 2026, pihak Bobibos menegaskan bahwa proyek tersebut bukan sekadar wacana.
“Bobibos hanya ingin menghadirkan energi alternatif untuk dunia. Bahan bakar yang ramah lingkungan dan berbiaya murah,” tulis tim Bobibos.
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab berbagai keraguan yang muncul di masyarakat sejak inovasi ini pertama kali diperkenalkan.
Sejak diperkenalkan dalam skala laboratorium, Bobibos memang memicu perdebatan di ruang publik.
Sebagian masyarakat menyambut positif, namun tidak sedikit yang meragukan keberadaan dan kelayakan produk tersebut.
Pembina Bobibos yang juga anggota DPR RI, Mulyadi, menegaskan bahwa pengembangan bahan bakar tersebut didasarkan pada hasil uji ilmiah yang valid. Ia menyebut pengujian telah dilakukan oleh Lemigas, lembaga riset migas milik pemerintah.
Menurutnya, hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa Bobibos memiliki kualitas bahan bakar yang tinggi.
“Hasil uji Lemigas menyatakan Bobibos bensin memiliki RON 98,1. Ini tentu saja sangat baik dan menunjukkan bahwa bahan bakar ini berkualitas tinggi,” ujar Mulyadi.
Angka Research Octane Number (RON) tersebut bahkan setara dengan bahan bakar beroktan tinggi yang biasanya digunakan pada kendaraan performa tinggi.
Selain itu, Bobibos juga diklaim memiliki emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil konvensional.
Inovasi ini dikembangkan dari konversi limbah jerami yang selama ini sering dianggap tidak memiliki nilai ekonomi tinggi.
Dengan teknologi tertentu, limbah tersebut diolah menjadi bahan bakar cair yang dapat digunakan pada kendaraan berbahan bakar bensin maupun solar.
Jika dikembangkan secara luas, bahan bakar berbasis biomassa ini dinilai berpotensi menurunkan biaya transportasi dan logistik karena harga produksinya relatif lebih murah.
Menariknya, pengembangan Bobibos justru mendapat respons cepat dari luar negeri.
Negara tetangga, Timor Leste, disebut telah menyiapkan regulasi, investasi, dan skema perlindungan industri untuk mendukung produksi bahan bakar tersebut.
Tim Bobibos juga memberi sinyal bahwa produk mereka akan segera diumumkan secara resmi dalam waktu dekat.
Melalui unggahan di Instagram, mereka menyebut sebuah “kejutan” sedang dipersiapkan dan akan segera dirilis ke publik.
Dengan kondisi geopolitik global yang semakin tidak menentu, inovasi energi lokal seperti Bobibos dinilai berpotensi menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk memperkuat kemandirian energi Indonesia sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya terbarukan yang lebih ramah lingkungan.***

Share this article
Bobibos, BBN jerami ber-RON 98,1 hasil uji Lemigas, ditegaskan bukan sekadar wacana. Meski diragukan, inovasi murah dan ramah lingkungan ini justru diminati Timor Leste saat harga energi global naik.