AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar alternatif karya anak bangsa kembali menarik perhatian publik.
Pengembang Bobibos menegaskan bahwa teknologi yang mereka kembangkan bukanlah bioetanol seperti yang banyak diasumsikan, melainkan bahan bakar berbasis hidrokarbon sintesis yang memiliki karakteristik berbeda.
Penegasan tersebut disampaikan melalui unggahan resmi Bobibos di media sosial pada Rabu, 11 Maret 2026.
Dalam pernyataan tersebut, tim pengembang juga mengumumkan rampungnya unit produksi bergerak yang dinamakan Bobibos Mobile Unit (BMU).
“Alhamdulillah Bobibos Mobile Unit akhirnya rampung kami buat. Mobil ini akan dikirim ke Timor Leste pekan ini. BMU akan produksi bahan bakar skala 300 liter per enam jam untuk bensin maupun solar,” tulis pihak Bobibos.
BMU merupakan fasilitas produksi bergerak yang dirancang untuk mengolah bahan baku organik menjadi bahan bakar ramah lingkungan.
Dalam operasionalnya, unit ini mampu memproduksi bahan bakar berbasis tanaman tanpa campuran bahan bakar fosil.
Founder Bobibos, M Ikhlas Thamrin, juga mengungkapkan bahwa untuk peluncuran di Timor Leste, produk ini akan menggunakan nama baru yaitu TABe. Nama tersebut merupakan singkatan dari Timor Agriculture Bobibos Energy.
“Brand di Timor Leste adalah TABe, singkatan dari Timor Agriculture Bobibos Energy,” jelas Ikhlas.
Hidrokarbon Sintesis vs Bioetanol
Pihak Bobibos menekankan bahwa produk mereka bukan bioetanol, melainkan bahan bakar hidrokarbon sintesis yang disebut sebagai green gasoline dan green diesel.
Secara kimiawi, teknologi ini berbeda cukup jauh dengan bahan bakar berbasis alkohol seperti bioetanol.
Bioetanol merupakan senyawa alkohol dengan rumus kimia C₂H₅OH yang mengandung atom oksigen.
Sifat ini membuatnya cenderung menyerap air dan berpotensi menyebabkan korosi pada komponen tangki atau sistem bahan bakar jika digunakan dalam konsentrasi tinggi.
Sebaliknya, bahan bakar hidrokarbon sintesis memiliki struktur molekul yang mirip dengan bensin atau diesel konvensional.
Artinya, bahan bakar tersebut terdiri dari rantai karbon dan hidrogen tanpa kandungan oksigen.
Karena karakteristik tersebut, bahan bakar jenis ini bersifat drop-in fuel, yaitu dapat langsung digunakan pada kendaraan tanpa perlu modifikasi mesin atau penambahan modul khusus.
Selain itu, densitas energi hidrokarbon sintesis juga lebih mendekati bahan bakar fosil sehingga efisiensinya lebih tinggi dibandingkan bioetanol.
Potensi Energi Alternatif
Teknologi bahan bakar sintetis ini dianggap memiliki potensi besar dalam mendukung transisi energi bersih.
Selain memanfaatkan biomassa seperti jerami, proses produksinya juga dirancang menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil.
Jika pengembangan teknologi seperti Bobibos berhasil dikomersialisasikan secara luas, Indonesia berpotensi memiliki alternatif energi domestik yang dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor minyak.

Share this article
Bobibos rilis BMU, unit produksi hidrokarbon sintesis (bukan bioetanol) berkapasitas 300L/6 jam. Produk bernama TABe ini siap dikirim ke Timor Leste pekan ini sebagai drop-in fuel ramah lingkungan.