Nasional

Bobibos Masih Terkendala Regulasi di Indonesia, Tapi Siap Bersinar di Timor Leste

Oleh: Katarina Erlita Jumat 13 Mar 2026, 20:35 WIB
Bobibos, Bahan Bakar Ramah Lingkungan dari Jerami. (Sumber: Chat GPT)

AYOJAKARTA.COM - Inovasi energi alternatif karya anak bangsa kembali menjadi sorotan di tengah ketidakpastian pasokan energi global.

Bobibos digadang-gadang sebagai salah satu solusi bahan bakar ramah lingkungan yang berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak.

Namun hingga kini, pengembangannya di dalam negeri masih menghadapi kendala regulasi.

Pembina Bobibos yang juga anggota DPR RI, Mulyadi, menegaskan bahwa pada prinsipnya tim pengembang siap menghadirkan Bobibos sebagai alternatif bahan bakar bagi masyarakat Indonesia.

Namun, mereka masih menunggu dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi, investasi, dan proteksi industri.

“Kami siap. Yang kami butuhkan itu regulasi, investasi, dan proteksi karena ini alternatif, bukan pengganti,” ujar Mulyadi.

Ia menjelaskan bahwa tanpa dukungan tersebut, inovasi bahan bakar berbasis jerami ini akan sulit berkembang di dalam negeri.

Saat ini kebijakan transisi energi di Indonesia lebih banyak memprioritaskan bahan baku seperti sawit, tebu, dan aren, sementara jerami belum masuk dalam prioritas pengembangan energi terbarukan.

Padahal, potensi bahan baku jerami di Indonesia dinilai sangat besar. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, luas lahan sawah di Indonesia mencapai sekitar 11 juta hektare.

Jika dimanfaatkan secara optimal, jerami dari lahan tersebut dapat menghasilkan bahan bakar dalam jumlah besar.

Mulyadi bahkan memperkirakan satu hektare jerami bisa menghasilkan sekitar 2.000 liter bahan bakar.

Jika hanya lima juta hektare saja dimanfaatkan, maka potensi produksi bisa mencapai 10 miliar liter energi alternatif.

Menurutnya, jika Bobibos resmi dikembangkan di Indonesia, ada sejumlah manfaat besar yang dapat dirasakan, antara lain:

  • Menyediakan bahan bakar berkualitas dengan harga lebih terjangkau
  • Meningkatkan pendapatan petani
  • Menghemat anggaran negara melalui pengurangan impor energi
  • Membantu menjaga lingkungan karena emisinya relatif rendah

Tak hanya itu, pengembangan industri bioenergi juga berpotensi membuka lapangan kerja baru sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Sementara menunggu kepastian regulasi di Indonesia, pengembangan Bobibos justru bergerak lebih cepat di luar negeri.

Tim pengembang mengumumkan bahwa Bobibos Mobile Unit (BMU) telah selesai diproduksi dan siap dikirim ke Timor Leste pada Maret 2026.

Founder Bobibos, Muhammad Ikhlas Thamrin, menjelaskan bahwa unit produksi bergerak tersebut mampu memproduksi bahan bakar berbasis biomassa dengan kapasitas sekitar 300 liter dalam waktu enam jam.

“Di dalam mobil inilah nanti di Timor Leste kita akan memproduksi Bobibos untuk bensin maupun solar,” jelasnya.

Unit produksi tersebut sebenarnya awalnya dirancang untuk proyek kerja sama di Indonesia bersama Dedi Mulyadi.

Namun karena berbagai kendala, proyek tersebut akhirnya dialihkan ke Timor Leste.

Meski demikian, tim Bobibos menegaskan siap kembali mengembangkan teknologi tersebut di Tanah Air apabila mendapat dukungan dari pemerintah, termasuk jika diminta oleh Prabowo Subianto.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita