AYOJAKARTA.COM - Konflik di Timur Tengah yang semakin memanas berpotensi memicu lonjakan harga energi global.
Serangan terhadap kilang minyak dan gangguan jalur distribusi energi membuat pasar minyak dunia bergejolak.
Namun menurut pengamat ekonomi Bennix, ada satu negara yang justru bisa meraih keuntungan besar dari situasi ini, meskipun tidak memiliki cadangan minyak.
Bennix menilai eskalasi konflik yang melibatkan negara-negara di kawasan Teluk dapat mendorong harga minyak dunia melonjak tajam. Salah satu pemicu utamanya adalah gangguan distribusi di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pintu keluar sekitar 20% perdagangan minyak global.
“Kalau konflik ini terus berlanjut dan makin banyak kilang minyak yang hancur, harga minyak dunia sangat mungkin tembus di atas 100 dolar per barel bahkan lebih,” ujar Bennix.
Kenaikan harga energi tentu menjadi kabar buruk bagi negara yang bergantung pada impor minyak.
Mereka harus membeli minyak dengan harga mahal menggunakan dolar AS, yang dapat memperbesar defisit perdagangan dan menekan ekonomi domestik.
Namun di balik krisis energi tersebut, Bennix menyebut ada negara yang justru berpotensi meraup keuntungan besar, yakni Israel.
Menurutnya, keuntungan itu tidak berasal dari minyak, melainkan dari teknologi pengolahan air.
Teknologi Air Jadi Kunci Keuntungan
Bennix menjelaskan bahwa negara-negara Timur Tengah memiliki cadangan minyak melimpah, tetapi menghadapi masalah besar dalam ketersediaan air bersih.
Curah hujan di kawasan tersebut sangat rendah, bahkan hanya sekitar 100 milimeter per tahun di beberapa negara Teluk.
Akibatnya, banyak negara di kawasan tersebut bergantung pada teknologi desalinasi, yaitu proses mengubah air laut menjadi air tawar.
“Di Timur Tengah justru air lebih mahal dari minyak. Karena sumber air alami sangat terbatas, mereka bergantung pada pabrik desalinasi,” kata Bennix.
Teknologi desalinasi sendiri membutuhkan energi besar. Metode lama menggunakan pemanasan air laut (thermal desalination) yang sangat bergantung pada energi dari minyak dan gas.
Ketika konflik merusak kilang minyak dan membuat energi menjadi mahal atau langka, negara-negara Teluk diperkirakan akan beralih ke metode yang lebih efisien, yaitu reverse osmosis.
Dominasi Teknologi Israel
Menurut Bennix, teknologi reverse osmosis yang paling maju saat ini banyak dikembangkan oleh Israel.
Teknologi ini menggunakan membran khusus untuk menyaring garam dan kotoran dari air laut sehingga menghasilkan air tawar yang layak konsumsi.
“Israel tidak punya minyak, tapi mereka punya teknologi desalinasi paling efisien. Ketika energi mahal, negara-negara Teluk makin bergantung pada teknologi ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, industri teknologi air Israel bahkan menghasilkan miliaran dolar setiap tahun dari ekspor teknologi pengolahan air.
Karena itu, Bennix menilai eskalasi konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada harga minyak, tetapi juga berpotensi mengubah peta ekonomi kawasan.
“Semakin banyak kilang minyak yang rusak, negara-negara Teluk akan semakin membutuhkan teknologi pengolahan air yang efisien. Di sinilah Israel berpotensi mendapatkan keuntungan besar,” pungkas Bennix.***