Nasional

Ujian Nurani Importir di Tengah Ancaman El Nino Godzilla

Oleh: Katarina Erlita Selasa 07 Apr 2026, 21:18 WIB
Ilustrasi Panen Padi. (Sumber: Pixabay/jeniffertn)

AYOJAKARTA.COM - Ancaman “El Nino Godzilla” mulai menghantui Indonesia. Istilah ini merujuk pada fenomena El Nino dengan intensitas yang jauh lebih kuat dari biasanya, berpotensi memicu kekeringan ekstrem dan gangguan produksi pangan dalam skala luas.

Dalam situasi ini, pemerintah tidak hanya berbicara soal stok dan distribusi, tetapi juga mengetuk sisi moral para pelaku usaha, terutama importir.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman secara tegas mengingatkan agar importir tidak mengambil keuntungan berlebihan di tengah potensi krisis.

Pesan ini disampaikan jelang rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Selasa, 7 April 2026.

“Nanti kami kumpulkan para importir. Jangan menaikkan harga terlalu tinggi,” ujar Andi Amran Sulaiman.

Ia menekankan pentingnya empati terhadap masyarakat yang akan paling terdampak oleh lonjakan harga pangan.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menghadapi dampak iklim ekstrem.

Selain pengawasan harga, pemerintah juga memastikan ketersediaan pangan tetap aman.

Amran bahkan menyebut kondisi stok beras nasional saat ini berada pada level sangat kuat, mencapai 4,6 juta ton dan diproyeksikan menyentuh 5 juta ton pada April, angka tertinggi sepanjang sejarah.

Di sisi lain, data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa El Nino ekstrem akan berlangsung dari April hingga Agustus 2026.

Kondisi ini berpotensi memperpanjang musim kering hingga enam bulan, meningkatkan risiko gagal panen dan tekanan terhadap rantai pasok pangan.

Menghadapi situasi tersebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, mulai dari optimalisasi irigasi, rehabilitasi infrastruktur air, hingga distribusi alat pertanian.

Kepala Badan Pangan Nasional (BPN) menyebutkan bahwa lebih dari 171.000 unit alat pertanian telah disalurkan sejak 2024 untuk memperkuat ketahanan sektor pangan.

Namun, di balik angka-angka optimistis itu, tantangan sebenarnya terletak pada keadilan distribusi dan stabilitas harga.

Kelompok rentan seperti petani, nelayan, hingga pekerja sektor informal menjadi pihak yang paling berisiko terdampak.

Dalam konteks inilah, seruan empati kepada importir menjadi krusial. Pemerintah ingin memastikan bahwa mekanisme pasar tidak berjalan liar di tengah krisis iklim.

Sebab, ketika bencana datang, yang diuji bukan hanya sistem logistik, tetapi juga nurani para pelaku ekonomi.

“El Nino Godzilla” bukan sekadar fenomena cuaca. Ia adalah ujian kolektif bagi negara, pelaku usaha, dan masyarakat, untuk menjaga keseimbangan antara keuntungan dan kemanusiaan.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita