AYOJAKARTA.COM - Harga bioetanol resmi naik menjadi Rp7.992 per liter per Mei 2026.
Kenaikan ini berlaku mulai 1 Mei 2026 dan diumumkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui postingan di akun Instagram resmi @djebtke.
Harga bulan lalu tercatat Rp7.957 per liter, sehingga terjadi kenaikan Rp35 per liter.
Penetapan harga menggunakan formula resmi dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 6034K/12/MEM/2016.
Formula perhitungan Harga Indeks Pasar (HIP) bioetanol adalah:
HIP = (Rata-rata harga tetes tebu KPB 3 bulan x 4,125 kg/liter) + 0,25 USD/liter.
Rata-rata harga tetes tebu KPB periode 15 Oktober 2025 sampai 14 Februari 2026 tercatat Rp907 per kilogram.
Nilai kurs rata-rata Bank Indonesia periode 15 Maret sampai 14 April 2026 adalah Rp17.008.
Kenaikan harga bioetanol tidak terlepas dari faktor bahan baku. Harga tetes tebu yang meningkat memengaruhi besaran HIP.
Selain itu, permintaan pasar bioetanol juga meningkat, seiring rencana pencampuran bioetanol ke dalam BBM jenis bensin untuk program E10 atau E20.
Tren kenaikan bioetanol sebenarnya sudah terlihat sejak awal tahun 2026.
Pada Maret, harga HIP bioetanol tercatat Rp7.949 per liter, lalu naik sedikit pada April menjadi Rp7.958 per liter.
Kenaikan bertahap ini menandakan permintaan yang stabil dan potensi harga terus naik seiring bulan berjalan. Pemerintah juga menetapkan HIP biodiesel sebagai perbandingan.
HIP biodiesel per April 2026 sebesar Rp14.262 per liter belum termasuk ongkos angkut, naik dari harga sebelumnya Rp13.980 per liter.
Penetapan HIP biodiesel didasarkan pada harga rata-rata Crude Palm Oil (CPO) KPB ditambah konversi USD85 per ton, dikalikan densitas 870 kg/m³ ditambah ongkos angkut.
Penerapan HIP BBN, termasuk bioetanol dan biodiesel, merupakan bagian dari kebijakan transisi energi nasional.
Program mandatori pencampuran bioetanol dan biodiesel bertujuan untuk menurunkan ketergantungan pada BBM fosil sekaligus memberi peluang pasar bagi produsen lokal.
Dengan kenaikan harga bioetanol yang bertahap, konsumen dan industri perlu memantau tren hingga akhir tahun 2026.
Faktor utama yang dapat mendorong kenaikan harga selanjutnya antara lain ketersediaan bahan baku, fluktuasi harga internasional, kurs rupiah, serta permintaan dari sektor transportasi dan industri.
Kenaikan harga ini juga memberi sinyal bagi produsen bioetanol untuk menyesuaikan kapasitas produksi dan strategi pemasaran.
Masyarakat dan pelaku industri diharapkan memperhatikan perkembangan harga agar bisa merencanakan penggunaan bioetanol secara efisien.
Meski kenaikan relatif kecil per bulan, tren ini bisa berlanjut hingga akhir tahun jika faktor-faktor ekonomi dan produksi tetap mendukung.
Dengan formula HIP yang transparan dan faktor pengaruh yang jelas, ESDM memberikan acuan bagi pasar untuk menyesuaikan harga dan memprediksi arah tren bioetanol di masa depan.***